Follow Us @soratemplates

Selasa, 25 September 2018

Surga yang Terlihat

September 25, 2018 0 Comments



#SulungkuSpesial

“Sabar ya Ra,  surga kita sudah terlihat.  Kita sama-sama memaksimalkan ikhtiar atas titipan-Nya yang spesial. Mintalah sama Allah agar kita dimampukan dalam mendidik dan mengasuhnya. Semangat ya!”

Kembali genangan dipelupuk mataku tak terbendung saat kubaca pesan WhatsApp dari sahabatku, Teh Heny. Kata-kata itu seolah memberikan warna baru. Ya, aku harus bisa mulai berdamai dengan kenyataan. Terjawab sudah selama 3 tahun 10 bulan aku mengasuhmu, Nak. Menimangmu, memerhatikanmu dan berusaha semampuku mendidikmu. Kini, kutahu mengapa kau berbeda. Iya sayang, karena kau spesial. Aa Faqih putra sulungku, kamu spesial nak.

Ya, berat. Berat sekali, saat  awal-awal tahu bahwa amanah yang Allah titipkan adalah amanah anak yang spesial.  Kejadian ini bermula saat Teh Heny sahabatku, memberitahu bahwa di sekolah anaknya, sekolah khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) akan mendatangkan seorang Terapis Stimulus Syaraf. “Bu Tiwuk namanya. Nanti Faqih diurut syaraf-syarafnya lalu diobservasi. Kemudian nanti akan ada assesment gitu Ra. Nah, assesment itu yang kita butuhkan Ra.nanti kita bisa tahu, sebab kenapa Faqih speech delay (terlambat bicara). Bayarnya 350 ribu Ra”. Panjang lebar Teh Heny menjelaskan diseberang telepon sana.

Siang itu, cukup lama aku termenung sesaat setelah aku menutup telepon dari Teh Heny. Aku bingung memikirkan cara bagaimana menyampaikannya pada suami. Bukan soal biayanya yang lumayan. Karena selama ini untuk biaya terapi sulungku, suami selalu mengusahakan. Yang menjadi dilema adalah soal cara pendangku dan suami yang belum klik. Suami beranggapan bahwa ‘ah nanti juga Si Sulung bisa sendiri. Sekarang belum saatnya saja’.

Tapi, tidak denganku. Aku menyadarinya, jika dia tak sama dengan adiknya dan dengan anak-anak lain seusianya. Adiknya  yang 1 tahun sudah bisa bicara banyak kosa kata. Tumbuh kembang setiap bulannya sesuai dengan tahapan-tahapan pada buku panduan posyandu. Tapi, tidak dengan sulungku. 3 tahun 10 bulan, dia belum bisa berbicara banyak. Pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya tidak seperti anak-anak lain seusianya. Bukan aku membandingkannya dengan yang lain, hanya saja itu yang aku rasakan.

Iringan teriakan dan tangisannya selalu menghiasi. Dengan frekuensi yang cukup sering setiap harinya. Apalagi jika Ia menginginkan sesuatu. Durasinya bisa lebih lama. Lari kesana kemari seperti tak merasa kelelahan. Terkadang suka tertawa sendiri. Sering memainkan jemarinya.  Memukuli wajahnya sendiri saat kesal atau menginginkan sesuatu. Tantrum setiap hari dan bahkan pernah sampai 3 jam sampai matanya bengkak. Duh pilu hatiku. Yang membuatku was-was, sulungku suka memukul temannya, apalagi pada anak dibawah usianya. Ke adiknya ? ah sudah beberapa kali menjadi korbannya. Jika digabungkan dengan teman-teman seusianya, dia selalu menjauh dan asik sendiri, seperti punya dunia sendiri. Sekalinya keluar rumah, jangan harap mataku bisa lepas dari pandangannya. Kalau lengah, seketika dia menghilang. Kabur. Pernah suatu hari aku kecolongan, aku mencarinya kemana-mana ternyata dia sudah ada di depan gang, di tepi jalan raya utama. Ya Allah, hampir copot jantungku.

***

Kembali ke persoalan perbedaan pandanganku dengan suami terhadap sulungku. Entahlah, aku merasa pesimis. Tapi, kucoba sampaikan maksudku untuk kembali memaksimalkan ikhtiar terapi si sulung. Ternyata benar dugaanku, suami tak setuju. Suami masih dengan pemahamannya, ‘nanti juga Faqih bisa sendiri. Belum saatnya’. Deg! Menyesakan. Huaaaa.

Esok harinya Teh Heny kembali bertanya melalui chat WhatsApp.

“Ra, gimana sudah bilang suami ? nanti Teteh daftarkan soalnya kuota terbatas. Kalau oke nanti langsung dapat jadwal Ra. Besok terakhir pendaftran yah.”

Ya Allah, sebenarnya aku ingin membawa sulungku terapi. Tapi...  Ah seandainya saja aku punya uang sendiri pada saat itu. Tak akan aku izin suami. Langsung kubawa saja.

“Maaf Teh, kayaknya nggak. Suami belum mengizinkan”.

Tak berapa lama, telepon via WhatsApp berdering. Teh Heny menelpon.

“Ra, sayang banget kalau sampai nggak ikut. Ayo bilang lagi ke suami. Gimana kek caranya. Kasian Faqih.”

Ah inginku tumpahkan airmataku saat itu juga. Ya Allah, aku harus bagaimana. Akhirnya aku sampaikan apa yang kurasakan pada Teh Heny. Tentang pandanganku dan suami yang tak sejalan.

“Sabar ya Ra, Teteh dan suami pernah pada posisi Ira. Belum bisa merima sepenuhnya atas ketetapan yang Allah berikan. Itu memang berat. Tapi tetap kita harus memaksimalkan ikhtiar kita atas anak kita, titipan Allah untuk kita. Kelak Allah akan mintai kita pertanggungjawaban atas titipanNya.”

Masya Allah, perkataan Teh Heny seolah memecahkan kebingunganku. Rasanya, aku masih punya setitik harapan. Besok pendaftaran terakhir. Akan kucoba kembali bernegoisasi dengan suamiku.

***

Butuh beberapa kali untuk meyakinkan suami. Pergolakan batin antara kami tak jarang menumpahkan banyak airmata. Memendam pilu. Terkadang menyesakan. Solusi dua arah yang tak berkesudahan. Aku ke sini, suami ke sana. Saat dua benak tak bisa sejalan. Walau begitu, akhirnya suami mengalah. Walau  tak setulusnya mengizinkan, mungkin agar supaya aku tak merengek terus. Tapi biarlah pikirku.

Hari itu tiba. Kami mendapatkan jadwal jam 2 siang. Karena bertepat hari kerja, pada saat itu hari Rabu. Sehingga terpaksa suami izin pulang duluan dari tempat kerjanya. Mengantarkan kami ke tempat terapi.

Tiba giliran sulungku masuk ruangan. Aku disuguhkan rentetan pertanyan terkait tumbuh kembang sulungku. Aku sampaikan diagnosa dari Rumah Sakit adalah speech delay. Lalu Bu Tiwuk (terapisnya), mulai meraba syaraf dari ujung kaki hingga ujung kepala. Awalnya sulungku tertawa, mungkin merasa geli karena diraba dan dipijat dibagian-bagian tubuh tertentu. Lama-lama mulai berontak dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak tega melihatnya kesakitan. Tapi kucoba tegar sambil aku rekam. Katanya pijatan-pijatannya bisa nanti dipraktekan dirumah.

Setelah selesai, Bu Tiwuk belum bisa memberikan assesment untuk sulungku. Perlu diobservasi. Besok jadwal pembekalan untuk orangtua. Aku diminta untuk datang lebih awal. Jam 8 pagi harus sudah sampai di lokasi.

Dalam perjalanan menuju pulang, raut wajahnya agak berbeda. Nampaknya suami merasa sedikit kecewa. Suami bilang terapi tadi tidak sesuai dengan harapannya.

“Kok terapinya begitu? Sama saja kalau gitu mah dengan Umi Silva”.

Umi Silva, beliau adalah terapis urut. Sulungku pernah beberapa kali dibawa terapi kesana. Entah apa yang kurasa saat itu, sepertinya apa yang kulakukan selalu kurang tepat dimatanya. Disisi lain aku paham. Ini karena pandangan kami yang belum menemukan titik terang. Aku bilang, masih ada hari esok. Aku harus kesana lagi. Masih ada satu hari lagi. Kami pulang dengan tidak banyak bicara satu sama lain.

***

Tepat jam 8 pagi aku dan sulungku sudah sampai. Adiknya aku titipkan ke tetangga. Suamiku kerja, tak bisa mengantarkan kami. Tak berapa lama Bu Tiwuk datang. Kemudian aku dan Bu Tiwuk duduk memojok. Bu Tiwuk memberikan penjelasan panjang lebar. Lalu, dipenghujung obrolan kutanyakan hal yang menjadi assesment (penilaian) sebagai terapis, “Maaf Bu, setelah Ibu melihat kondisi anak saya, dia lebih cenderung kemana ? apa assesment untuknya ?”

”Kalau saya melihat, anak ibu mengalami gangguan pada interaksi,  komunikasi dan tingkah laku. Saya melihat anak ibu lebih cenderung ke ASD (Autism Spechtrum Disorder)”

Deg! Hatiku terkoyak. Tubuhku melemas. Aku tak kuasa menahan genangan di pelupuk mataku.  Seketika pikiranku melayang, menerawang entah kemana. ‘Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Apa anakku nantinya bisa seperti anak-anak yang lain? Anak yang normal? Apa anakku bisa mengejar ketertinggalannya? Ya Allah, aku harus bagaimana ?’

Kemudian aku teringat suamiku. Bagaimana aku menyampaikannya padanya. Disatu sisi aku paham apa yang dipikirkan suami. Bahwa suami masih punya setitik harapan pada putra sulungku. Jika sulungku normal. Bukan anak spesial. Aku paham itu. Tapi, apapun itu tetap kami harus  berdamai dengan kenyataaan. Tak ada kata lain yang bisa mengunhkapkan itu semua kecuali kata ikhlas. Ikhlas menerima setiap jengkal qodho (ketetapan) yang Allah berikan.  Kini, aku pun mulai memahami. Mengapa kamu berbeda Nak. Ya, karena kamu spesial. Kamu malaikat kecil yang dikirim Tuhan sebagai pelengkap hidup dan untuk membersamai kami dalam menjalani bahtera kehidupan. Maha Suci Engkau Ya Allah, semoga aku mampu menjaga amanahMu ini, gumamku.

***

Helaan nafasku panjang. Kucoba mengumpulkan ‘nyali’ untuk berdiskusi dengan suami. Kusiapkan mental juga agar tak ciut saat ditolak olehnya. Huaaa. Benar saja. Suami belum mau menerima jika anaknya harus dalam pengawasan dan pengasuhan khusus. Mendidiknya dengan khusus. Karena dia termasuk kedalam Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Suami masih tetap dalam pandangannya jika si sulung nanti juga bisa dengan sendirinya. Tak perlu penanganan khusus dan semacamnya. Huaaa, untung aku sekuat baja. Setegar karang. Walau dihempas puluhan kali ombak tetap akan kelelep juga. Hiks pilu hatiku.

Tapi, kali ini aku meminta solusi darinya. Tak mungkin setiap hari aku kebingungan dalam mengasuh sulungku. Akhirnya, suami memintaku agar si sulung didaftarkan ke sekolah Play Grup. Dalam hati, aku tak setuju. Sudah bisa kutebak, huru hara apa yang terjadi saat sulungku aku masukan ke Sekolah Play Grup. Tapi, mau bagaimana. Ya sudahlah, kuikuti dulu saja solusi darinya.

Hari pertama sulungku tak mau masuk kelas. Lari kesana kemari. Turun naik tangga. Jika diminta masuk kelas. Langsung teriak-teriak dan kalau sudah teriak itu berpotensi tantrum. Jadi, sulungku dibiarkan berkeliaran diluar. Dan aku mesti tak boleh jauh darinya. Sambil menggendong adiknya. Mengikuti kemana kakaknya lari kesana kemari. Sebab kalau tak diikuti, bisa jadi dia mukul temannya atau teriak-teriak.

And enough! Cukup 2 hari saja. 2 hari sudah membuat rumah bak kapal pecah. Sebab sepulang mengantar sekolah sulungku, aku tepar. Aku angkat tangan.
Akhirnya, aku menyerah. Sambil terisak kuceritakan apa yang terjadi selama di sekolah. Tangisku pecah pada suami. Sampai akhirnya, suami ‘baru mulai menyadari’  jika anaknya tak sama dengan yang lain. Anaknya spesial, butuh penanganan spesial.

***

Nak, terimakasih kamu telah mengajarkan kami banyak hal. Saat kami menyadari bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Juga tentangmu, adalah amanah yang tak terhingga. Alhamdulillah, aku bersyukur dititipkan amanah yang luarbiasa. Terimakasih Ya Allah. Engkau telah memberikan ladang pahala yang cukup luas.  Ya Allah mampukan kami dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kami. Menjadi generasi yang hanya mengutamakan cintanya kepada-Mu dan Rasul-Mu. Menjadikannya surga yang benar terlihat di dunia. Juga mampu membawa kami, orangtuanya pada kehidupan surga yang kekal di akhirat kelak. 

Semoga kami mampu menggali potensimu dan menghebatkanmu, Aa Faqih putra sulungku spesial yang terlahir dari rahim ibu.

__________

#PR3 #NgajiLiterasi
#Memoar #AyoBercerita
#MelemaskanJemari