Follow Us @soratemplates

Selasa, 25 September 2018

Surga yang Terlihat

September 25, 2018 0 Comments



#SulungkuSpesial

“Sabar ya Ra,  surga kita sudah terlihat.  Kita sama-sama memaksimalkan ikhtiar atas titipan-Nya yang spesial. Mintalah sama Allah agar kita dimampukan dalam mendidik dan mengasuhnya. Semangat ya!”

Kembali genangan dipelupuk mataku tak terbendung saat kubaca pesan WhatsApp dari sahabatku, Teh Heny. Kata-kata itu seolah memberikan warna baru. Ya, aku harus bisa mulai berdamai dengan kenyataan. Terjawab sudah selama 3 tahun 10 bulan aku mengasuhmu, Nak. Menimangmu, memerhatikanmu dan berusaha semampuku mendidikmu. Kini, kutahu mengapa kau berbeda. Iya sayang, karena kau spesial. Aa Faqih putra sulungku, kamu spesial nak.

Ya, berat. Berat sekali, saat  awal-awal tahu bahwa amanah yang Allah titipkan adalah amanah anak yang spesial.  Kejadian ini bermula saat Teh Heny sahabatku, memberitahu bahwa di sekolah anaknya, sekolah khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) akan mendatangkan seorang Terapis Stimulus Syaraf. “Bu Tiwuk namanya. Nanti Faqih diurut syaraf-syarafnya lalu diobservasi. Kemudian nanti akan ada assesment gitu Ra. Nah, assesment itu yang kita butuhkan Ra.nanti kita bisa tahu, sebab kenapa Faqih speech delay (terlambat bicara). Bayarnya 350 ribu Ra”. Panjang lebar Teh Heny menjelaskan diseberang telepon sana.

Siang itu, cukup lama aku termenung sesaat setelah aku menutup telepon dari Teh Heny. Aku bingung memikirkan cara bagaimana menyampaikannya pada suami. Bukan soal biayanya yang lumayan. Karena selama ini untuk biaya terapi sulungku, suami selalu mengusahakan. Yang menjadi dilema adalah soal cara pendangku dan suami yang belum klik. Suami beranggapan bahwa ‘ah nanti juga Si Sulung bisa sendiri. Sekarang belum saatnya saja’.

Tapi, tidak denganku. Aku menyadarinya, jika dia tak sama dengan adiknya dan dengan anak-anak lain seusianya. Adiknya  yang 1 tahun sudah bisa bicara banyak kosa kata. Tumbuh kembang setiap bulannya sesuai dengan tahapan-tahapan pada buku panduan posyandu. Tapi, tidak dengan sulungku. 3 tahun 10 bulan, dia belum bisa berbicara banyak. Pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya tidak seperti anak-anak lain seusianya. Bukan aku membandingkannya dengan yang lain, hanya saja itu yang aku rasakan.

Iringan teriakan dan tangisannya selalu menghiasi. Dengan frekuensi yang cukup sering setiap harinya. Apalagi jika Ia menginginkan sesuatu. Durasinya bisa lebih lama. Lari kesana kemari seperti tak merasa kelelahan. Terkadang suka tertawa sendiri. Sering memainkan jemarinya.  Memukuli wajahnya sendiri saat kesal atau menginginkan sesuatu. Tantrum setiap hari dan bahkan pernah sampai 3 jam sampai matanya bengkak. Duh pilu hatiku. Yang membuatku was-was, sulungku suka memukul temannya, apalagi pada anak dibawah usianya. Ke adiknya ? ah sudah beberapa kali menjadi korbannya. Jika digabungkan dengan teman-teman seusianya, dia selalu menjauh dan asik sendiri, seperti punya dunia sendiri. Sekalinya keluar rumah, jangan harap mataku bisa lepas dari pandangannya. Kalau lengah, seketika dia menghilang. Kabur. Pernah suatu hari aku kecolongan, aku mencarinya kemana-mana ternyata dia sudah ada di depan gang, di tepi jalan raya utama. Ya Allah, hampir copot jantungku.

***

Kembali ke persoalan perbedaan pandanganku dengan suami terhadap sulungku. Entahlah, aku merasa pesimis. Tapi, kucoba sampaikan maksudku untuk kembali memaksimalkan ikhtiar terapi si sulung. Ternyata benar dugaanku, suami tak setuju. Suami masih dengan pemahamannya, ‘nanti juga Faqih bisa sendiri. Belum saatnya’. Deg! Menyesakan. Huaaaa.

Esok harinya Teh Heny kembali bertanya melalui chat WhatsApp.

“Ra, gimana sudah bilang suami ? nanti Teteh daftarkan soalnya kuota terbatas. Kalau oke nanti langsung dapat jadwal Ra. Besok terakhir pendaftran yah.”

Ya Allah, sebenarnya aku ingin membawa sulungku terapi. Tapi...  Ah seandainya saja aku punya uang sendiri pada saat itu. Tak akan aku izin suami. Langsung kubawa saja.

“Maaf Teh, kayaknya nggak. Suami belum mengizinkan”.

Tak berapa lama, telepon via WhatsApp berdering. Teh Heny menelpon.

“Ra, sayang banget kalau sampai nggak ikut. Ayo bilang lagi ke suami. Gimana kek caranya. Kasian Faqih.”

Ah inginku tumpahkan airmataku saat itu juga. Ya Allah, aku harus bagaimana. Akhirnya aku sampaikan apa yang kurasakan pada Teh Heny. Tentang pandanganku dan suami yang tak sejalan.

“Sabar ya Ra, Teteh dan suami pernah pada posisi Ira. Belum bisa merima sepenuhnya atas ketetapan yang Allah berikan. Itu memang berat. Tapi tetap kita harus memaksimalkan ikhtiar kita atas anak kita, titipan Allah untuk kita. Kelak Allah akan mintai kita pertanggungjawaban atas titipanNya.”

Masya Allah, perkataan Teh Heny seolah memecahkan kebingunganku. Rasanya, aku masih punya setitik harapan. Besok pendaftaran terakhir. Akan kucoba kembali bernegoisasi dengan suamiku.

***

Butuh beberapa kali untuk meyakinkan suami. Pergolakan batin antara kami tak jarang menumpahkan banyak airmata. Memendam pilu. Terkadang menyesakan. Solusi dua arah yang tak berkesudahan. Aku ke sini, suami ke sana. Saat dua benak tak bisa sejalan. Walau begitu, akhirnya suami mengalah. Walau  tak setulusnya mengizinkan, mungkin agar supaya aku tak merengek terus. Tapi biarlah pikirku.

Hari itu tiba. Kami mendapatkan jadwal jam 2 siang. Karena bertepat hari kerja, pada saat itu hari Rabu. Sehingga terpaksa suami izin pulang duluan dari tempat kerjanya. Mengantarkan kami ke tempat terapi.

Tiba giliran sulungku masuk ruangan. Aku disuguhkan rentetan pertanyan terkait tumbuh kembang sulungku. Aku sampaikan diagnosa dari Rumah Sakit adalah speech delay. Lalu Bu Tiwuk (terapisnya), mulai meraba syaraf dari ujung kaki hingga ujung kepala. Awalnya sulungku tertawa, mungkin merasa geli karena diraba dan dipijat dibagian-bagian tubuh tertentu. Lama-lama mulai berontak dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak tega melihatnya kesakitan. Tapi kucoba tegar sambil aku rekam. Katanya pijatan-pijatannya bisa nanti dipraktekan dirumah.

Setelah selesai, Bu Tiwuk belum bisa memberikan assesment untuk sulungku. Perlu diobservasi. Besok jadwal pembekalan untuk orangtua. Aku diminta untuk datang lebih awal. Jam 8 pagi harus sudah sampai di lokasi.

Dalam perjalanan menuju pulang, raut wajahnya agak berbeda. Nampaknya suami merasa sedikit kecewa. Suami bilang terapi tadi tidak sesuai dengan harapannya.

“Kok terapinya begitu? Sama saja kalau gitu mah dengan Umi Silva”.

Umi Silva, beliau adalah terapis urut. Sulungku pernah beberapa kali dibawa terapi kesana. Entah apa yang kurasa saat itu, sepertinya apa yang kulakukan selalu kurang tepat dimatanya. Disisi lain aku paham. Ini karena pandangan kami yang belum menemukan titik terang. Aku bilang, masih ada hari esok. Aku harus kesana lagi. Masih ada satu hari lagi. Kami pulang dengan tidak banyak bicara satu sama lain.

***

Tepat jam 8 pagi aku dan sulungku sudah sampai. Adiknya aku titipkan ke tetangga. Suamiku kerja, tak bisa mengantarkan kami. Tak berapa lama Bu Tiwuk datang. Kemudian aku dan Bu Tiwuk duduk memojok. Bu Tiwuk memberikan penjelasan panjang lebar. Lalu, dipenghujung obrolan kutanyakan hal yang menjadi assesment (penilaian) sebagai terapis, “Maaf Bu, setelah Ibu melihat kondisi anak saya, dia lebih cenderung kemana ? apa assesment untuknya ?”

”Kalau saya melihat, anak ibu mengalami gangguan pada interaksi,  komunikasi dan tingkah laku. Saya melihat anak ibu lebih cenderung ke ASD (Autism Spechtrum Disorder)”

Deg! Hatiku terkoyak. Tubuhku melemas. Aku tak kuasa menahan genangan di pelupuk mataku.  Seketika pikiranku melayang, menerawang entah kemana. ‘Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Apa anakku nantinya bisa seperti anak-anak yang lain? Anak yang normal? Apa anakku bisa mengejar ketertinggalannya? Ya Allah, aku harus bagaimana ?’

Kemudian aku teringat suamiku. Bagaimana aku menyampaikannya padanya. Disatu sisi aku paham apa yang dipikirkan suami. Bahwa suami masih punya setitik harapan pada putra sulungku. Jika sulungku normal. Bukan anak spesial. Aku paham itu. Tapi, apapun itu tetap kami harus  berdamai dengan kenyataaan. Tak ada kata lain yang bisa mengunhkapkan itu semua kecuali kata ikhlas. Ikhlas menerima setiap jengkal qodho (ketetapan) yang Allah berikan.  Kini, aku pun mulai memahami. Mengapa kamu berbeda Nak. Ya, karena kamu spesial. Kamu malaikat kecil yang dikirim Tuhan sebagai pelengkap hidup dan untuk membersamai kami dalam menjalani bahtera kehidupan. Maha Suci Engkau Ya Allah, semoga aku mampu menjaga amanahMu ini, gumamku.

***

Helaan nafasku panjang. Kucoba mengumpulkan ‘nyali’ untuk berdiskusi dengan suami. Kusiapkan mental juga agar tak ciut saat ditolak olehnya. Huaaa. Benar saja. Suami belum mau menerima jika anaknya harus dalam pengawasan dan pengasuhan khusus. Mendidiknya dengan khusus. Karena dia termasuk kedalam Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Suami masih tetap dalam pandangannya jika si sulung nanti juga bisa dengan sendirinya. Tak perlu penanganan khusus dan semacamnya. Huaaa, untung aku sekuat baja. Setegar karang. Walau dihempas puluhan kali ombak tetap akan kelelep juga. Hiks pilu hatiku.

Tapi, kali ini aku meminta solusi darinya. Tak mungkin setiap hari aku kebingungan dalam mengasuh sulungku. Akhirnya, suami memintaku agar si sulung didaftarkan ke sekolah Play Grup. Dalam hati, aku tak setuju. Sudah bisa kutebak, huru hara apa yang terjadi saat sulungku aku masukan ke Sekolah Play Grup. Tapi, mau bagaimana. Ya sudahlah, kuikuti dulu saja solusi darinya.

Hari pertama sulungku tak mau masuk kelas. Lari kesana kemari. Turun naik tangga. Jika diminta masuk kelas. Langsung teriak-teriak dan kalau sudah teriak itu berpotensi tantrum. Jadi, sulungku dibiarkan berkeliaran diluar. Dan aku mesti tak boleh jauh darinya. Sambil menggendong adiknya. Mengikuti kemana kakaknya lari kesana kemari. Sebab kalau tak diikuti, bisa jadi dia mukul temannya atau teriak-teriak.

And enough! Cukup 2 hari saja. 2 hari sudah membuat rumah bak kapal pecah. Sebab sepulang mengantar sekolah sulungku, aku tepar. Aku angkat tangan.
Akhirnya, aku menyerah. Sambil terisak kuceritakan apa yang terjadi selama di sekolah. Tangisku pecah pada suami. Sampai akhirnya, suami ‘baru mulai menyadari’  jika anaknya tak sama dengan yang lain. Anaknya spesial, butuh penanganan spesial.

***

Nak, terimakasih kamu telah mengajarkan kami banyak hal. Saat kami menyadari bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Juga tentangmu, adalah amanah yang tak terhingga. Alhamdulillah, aku bersyukur dititipkan amanah yang luarbiasa. Terimakasih Ya Allah. Engkau telah memberikan ladang pahala yang cukup luas.  Ya Allah mampukan kami dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kami. Menjadi generasi yang hanya mengutamakan cintanya kepada-Mu dan Rasul-Mu. Menjadikannya surga yang benar terlihat di dunia. Juga mampu membawa kami, orangtuanya pada kehidupan surga yang kekal di akhirat kelak. 

Semoga kami mampu menggali potensimu dan menghebatkanmu, Aa Faqih putra sulungku spesial yang terlahir dari rahim ibu.

__________

#PR3 #NgajiLiterasi
#Memoar #AyoBercerita
#MelemaskanJemari

Senin, 09 Juli 2018

Yuk Move On dari Mantan !

Juli 09, 2018 0 Comments
Sumber pict : google

Kalau boleh jujur. Agak gimana gitu ya ngepost soal ini 🙈
.
Cerita dulu yes latarbelakang kenapa saya nge-post masalah ini, biar engga salah tangkap 😂
.
Seminggu kebelakang adik-adik binaan kompakan cerita tentang mantan. Aih. 🙊 Menganalisa problem meraka, mengharuskan saya kembali menyelami dunia remaja. Mengharuskan juga sedikit melirik ke spion. Plak ! alamat sedikit banyak kebuka deh ingatan-ingatan dulu pada masa-masa alayers 😂 Tapi, fakta lagi-lagi menunjukan walau sudah emak2 tapi usia masih bisa dikatakan remaja, remaja akut kaleee 😂
.
Berharap tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. Aamiin 😊

=================

Yuk Move On dari Mantan !
.
Dear kamu yang sedang berusaha mendekatkan diri pada Rab Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Menyadari hijrah bukanlah sebuah kata tanpa makna, bukan pula hanya soal perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, atau hanya sekedar seberapa sering kita membagikan tulisan di akun sosmed  tentang motivasi hijrah itu sendiri. Sehingga orang lain mengira kita betulan sudah berhijrah.
.
Hijrah menurut bahasa adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun hijrah juga bisa diartikan sebagai azzam untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Yang tadinya belum menutup aurat, berazzam untuk menutup auratnya kemudian istiqomah. Yang tadinya pacaran, berazzam untuk tidak pacaran lagi kemudian bertekad untuk istiqomah.
.
Ketika kita sudah berazzam untuk hijrah, pasti terpikir dalam benak untuk merubah segala hal buruk ingin menjadi baik, segala aktivitas yang jauh dari Islam ingin sesuai dengan aturan Islam. Termasuk untuk tidak pacaran lagi. Bagi yang sudah terlanjur pernah pacaran, pasti setelah putus punya mantan kan ? Betul atau benar ?
.
Sekedar bertanya, enak ga punya mantan ? 😂 Hemm, terkadang, ketika kita tengah dalam perjalanan kehidupan ada  kalanya sesekali kita menongok pada spion tentang episode kehidupan sebelumnya. Walau melihatnya sekilas, tapi pasti sedikit banyak membuka episode masa lalu yang sampai detik ini pun ada saja diantara kita yang masih berjuang untuk berusaha melupakannya. Walau berusaha menghilangkannya, tetap saja ada jejak. Pun walau semua bisa dibakar, tetap saja menyisakan sedikit abu kenangan. Betul atau benar ? 😂
.
Yaps, kita memang tidak bisa menghilangkan semua jejak kenangan. Hanya saja kita bisa mengalihkan semua rasa, bahkan asa pada doi 'sang mantan'. Come on dear, tentu kita bisa move on ! Jangan stagnan pada situasi seolah diri yang paling merana karena hati yang masih cinta pada sang mantan.
.
This, beberapa tips untuk kamu yang sedang berusaha move on dari sang mantan. Cekidot :
.
1. Hapus semua kontak Doi
.
HAPUS kontak HP, whatsApp, bbm, line, insta, facebook, twitt atau akun manapun itu yang memungkinkan kamu bisa lagi interaksi sama doi, atau kalo bisa blok saja. Terkadang rasa itu akan muncul kembali saat ineraksi terjalin. Usir cantik dengan kita menghapus semua kontak doi. Bisa ya ? 😉
.
2. Enyahkan benda-benda yang bisa mengingatkan kamu tentang doi
.
Kamu pernah dikasih apa saja saat pacaran dulu ? Buang semua, kalo perlu bakar ! 😱 (Sadis ya ?) 😂
.
Boneka unyu, surat cincay (cinta), gantungan kunci, baju, jaket, sepatu, sendal, kerudung, bunga yang udah layu juga jangan disimpan terus woy, buang buang hus hus sana ! 😂
.
Terus apalagi coba ingat-ingat. HP ? Aah kalo pernah dikasih HP gimana ? Apa mesti dibuang ? Jangan ! Kasih saya saja. 😅
.
Ya, intinya apa yang bisa dibuang, buang. Dihapus, dimusnahkan saja atau kalo engga dikasih orang saja yang masih bisa dimanfaatkan mah. Oh iya, termasuk itu tuh, bagi kamu yang suka nulis kenangan tentang doi dibuku harian juga sebaiknya coret-coret saja atau robek kek pas halaman yang lagi menceritakan tentang doi.
.
Aih, segitunya kah ? 🙈 iya harus cuy. Kan judulnya juga tips move on dari mantan 😂 kalo masih tersimpan, begimana ceritanya bisa move on. ✌ Sanggup ? Harus!
.
3. Lenyapkan foto-foto doi
.
Yang masih simpan fotonya, HAPUS. Apalagi foto berdua kamu dengan doi (😳), aah hapus semua! Yang sudah dicetak ? Robek. Yang ada di dompet ? Keluarkan, robek, ulek-ulek ! 😤
.
Tapi plis, ngerobek fotonya ga usah sambil drama mewek juga ya ! Tunjukan kalo kamu kuat. Ur the strong women. No cengeng yes. 😥
.
4. Umumkan ke teman dekatmu, kalo kamu pingin hijrah.
.
Well, menurut saya ini juga perlu. Biar teman-teman dekat kita tahu azzam kita. Yang pasti biar mereka selalu senantiasa mengingatkan kita kala kita futur. Ingat ya, teman dekat saja. Tak usah juga dibuat pengumuman kamu niat hijrah di akun-akun sosmedmu, yang terpenting adalah genggam erat komitmenmu. Kalau kata Tere Liye, "gigit komitmenmu dengan gigi graham".
.
5. #YukNgaji !
.
Nah ini. Jurus ampuh buat menghempaskan sang mantan ke laut lepas terdampar di pulau antah barantah 😂
.
Mengkaji Islam kaffah, akan menghilangkan rasa dan asa-mu pada doi. Kamu ga akan lagi nginget2 doi, yakin ingatan kamu akan berubah menjadi Saras 008 *jiaahh zadul + garing 😂* *ulangi*. Yakin ingatan kamu akan berubah menjadi selalu mengingatNya, mengingat RabbMu yang Maha Sempurna, mengingat RasulMu, mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Sehingga berubah juga lah orientasi cintamu, pada cinta yang paling tinggi dan utama yakni mencintai Allah dan RasulNya.
.
So dear, semangat. Tidak mau kah kamu kelak di Yaumul Akhir mendapat naungan dari RabbMu yang Maha Adil ? Karena salah satu golongan yang akan Allah berikan naungan adalah pemuda-pemudi yang selalu mendekatkan diri pada RabbNya. Maa shaa Allah.



Remaja Zaman Now Salah Maknai Gaul; Yuk Gaul Islami!

Juli 09, 2018 0 Comments
Sumber pict : google

Bro and Sist, apa yang ada dibenak kalian saat mendengar kata 'gaul' ? Atau definisi gaul menurutmu seperti apa? Hm, kalau boleh bertanya,  kamu sudah merasa gaul-kah? Kalau jawabannya belum, kamu harus melakukan apa dulu biar bisa disebut 'anak gaul' ? Dan kalau jawabannya sudah, kamu merasa sudah melakukan apa sehingga kamu layak disebut 'anak gaul' ? Nah, bingung nggak? Hehe. So, sebenarnya apa sih 'gaul' itu ?

Searching mbah gugel dengan keyword 'gaul', muncul definisi gaul dengan mengarah pada tingkah polah para remaja zaman now. Istilah 'gaya kekinian' adalah mereka yang terkatagori  layak disebut anak gaul. Entah dari gaya penampilan yang mengikuti tren, gaya bicara khas alayers, atau pergaulan dalam konteks kekinian macam nongki alias nongkrong bareng teman, pacar atau gebetan. Pun demikian, definisi 'gaul' versi kebanyakan remaja sekarang, mengasumsikan kalau gaul itu adalah yang serba kekinian. So guys, gaul versimu seperti apa?


 Predikat Gaul Ajang Eksistensi Diri

'Anak gaul' seolah menjadi predikat tertinggi yang harus dikejar oleh kebanyakan remaja zaman now. Mereka bangga tatkala ada yang menisbatkan pada mereka kalau 'Elo anak gaul bro'. Sehingga remaja rela melakukan apapun hanya demi ingin disebut 'anak gaul'. Sebaliknya, mereka yang ngga mengikuti tren kekinian, dianggap norak, kolot atau kampungan. Betul atau betul ?
Istilah gaul yang mereka kejar sebetulnya adalah bagian untuk memenuhi gharizah baqo (naluri mempertahankan atau eksistensi diri). Beragam cara yang mereka lakukan untuk memenuhi naluri baqo ini. Remaja identik dengan rasa keingintahuan yang tinggi, ditambah emosi yang masih labil plus pemahaman yang masih minim, banyak remaja yang awalnya hanya sekedar coba-coba justru terjerumus pada pergaulan bebas.

Atasnama Gaul

Remaja rela melakukan apapun asal diberi predikat 'gue anak gaul bro'. Mereka rela hanya demi ingin disebut anak gaul, kehormatannya berkeliaran tak dijaga. Nongkrong sampai larut malam. Pacaran menjadi gaya hidupnya. Yang ngga pacaran dianggap ngga gaul. Campur baur laki-laki dan perempuan, dan seterusnya. Ada lagi sampai berani melawan orangtuanya. Bahkan sampai mencampakan syariah Allah. Naudzubillah.

Ini akibat dari sistem penerapan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Jadilah remaja nihil pemahaman tentang makna pergaulan yang benar dalam Islam itu seperti apa. Sistem sekuler hanya melahirkan bibit amoral. Tak elak survei angka penyimpangan remaja semakin menggunung. Lagi, ini sebab diterapkannya sistem rusak yakni sistem sekularisme liberal.

Mengikat Makna Gaul

Arti kata gaul menurut KBBI adalah "hidup berteman (bersahabat)". Dua orang yang hidup berteman tidak mungkin keduanya sama -sama berdiam diri. Artinya adalah adanya interaksi. Jadi,  gaul itu adalah berinteraksi.

So guys, kita harus merubah mindset kita kalau gaul itu bukan melulu soal kekinian. Tapi gaul itu adalah berinteraksi dengan sesama. Catet! Tapi eits tunggu dulu, interaksi / pergaulan yang seperti apa yang shohih / benar menurut Islam?

Islam adalah agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan. Islam tak mengenal istilah pergaulan bebas. Dalam Islam pergaulan ada aturannya. Kamu wajib tahu akan pentingnya batasan pergaulan menurut Islam. Cekidot guys!

1. No Ikhtilat!

Ikhtilat adalah campur baur laki-laki dan perempuan. Kehidupan laki-laki dan perempuan itu sejatinya terpisah. Kecuali empat hal : pendidikan, muamalah, kesehatan, kendaraan. Nah selain keempat hal itu, kita ngga boleh ikhtilat guys. So, sekarang rubah yuk mindset kita. Bahwa mereka yang menjaga interaksinya dengan tidak ikhtilat adalah mereka remaja gaul.

2. No Khalwat!

Khalwat adalah berdua-duan dengan lawan jenis alias pacaran. Nah nah, nampaknya ini sudah dianggap hal wajar ya guys. Padahal aktivitas ini salahsatu yang Allah dan RasulNya benci. Huuaa. Mulai sekarang, yuk kita rubah persepsi kita bahwa, mereka para aktivis pacaran justru mereka remaja yang norak! Mereka yang ngga tahu aturan dan ngga mau diatur. Right, mereka itulah sejatinya yang ngga gaul. Mereka ngga update pemikiran. Pemikiran mereka yang terbelenggu oleh hawa nafsunya. So, guys catet dengan rapi bahwa pacaran adalah aktivitas haram. So, say NO to pacaran! Jadilah Single before akad! Jomlo fii sabilillah adalah pilihan tepat.

3. Tutup Auratmu!

Menutup aurat adalah kewajiban untuk laki-laki dan perempuan. Batasan aurat sudah pada tahu kan ya? Yaps. Batasan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Untuk perempuan tutuplah auratmu dengan sempurna. Pakai khimar (silakan cek an-nur : 31) dan jilbab (al ahzab : 59).

Guys, yang belum menutup aurat. Tutuplah segera! Karena  itu perintah Allah. Kita tak punya alasan untuk tak menutupnya. Yang sudah menutup aurat, sempurnakanlah dengan jilbab dan khimar. Rumus hijab adalah jilbab + khimar + kaos kaki - tabarruj = hijab syar'i.
Yuk, hijab tanpa nanti taat tanpa tapi! Mari berhijab syar'i!

4. Yuk Ngaji !

Nah ini nih, datangi majlis-majlis ilmu guys. Ngaji Islam kaffah adalah solusi tuntus buat kamu yang ingin berubah atau hijrah menuju ke hal yang lebih baik menurut Islam. Ngaji Islam kaffah akan mengikatmu pada koridor syariat. Disanalah kamu akan temukan teman-teman satu visi dan misi mendekatkan diri pada Rabb pencipta semesta. Meletakan cinta yang paling tinggi adalah saat kita mencintai Allah dan RasulNya. Teman-teman hijrahmu akan selalu mengingatkanmu dalam kesabaran dan ketaatan. #IniBaruGaul.

Wa'allahu a'lam bishowab. 

Terjebak

Juli 09, 2018 2 Comments

Sumber pict : Google

Seperti riuh angin semilir, menerpa dedaunan seolah saling menyapa. Beriringan, berjajar, bergerak lamban. Sejuknya terpaan angin malam.
.
Drrr. Suara getar HP yang tertindih tas dan buku-buku yang belum sempat dirapikan setelah mengerjakan tugas sekolah. Matanya mulai terbuka, tangannya meraba mencari keberadaan HP, menyingkirkan buku-buku yang masih berantakan. "Ya Allah, aku ketiduran di meja belajar". Salia setengah sadar, mengucek-ngucek mata dan dibukanya HP sambil memakaikan kacamata yang masih menempel agak melonggar.
.
"dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. (Al-Israa' : 79)"
.
Melihat jam di HP, Salia langsung melek. "Ya Allah sudah jam 3 toh.". Dalam hati Ia bergumam, 'siapa ya yang mengirim pesan tanpa nama pengirim, sudah 3 hari ini mengingatkan aku untuk qiamul lail.'
.
Dua hari sebelumnya juga Salia menerima pesan yang sama. Kutipan Nash Al qur'an dan Hadist membangunkannya untuk bersujud disepertiga malam.
.
Diletakkannya kembali HP sambil merapikan meja belajar yang berantakan. Belum beranjak dari dari bangku, sambil meregangkan otot-otot yang kaku. Tetiba HPnya kembali bergetar. Nomor yang sama kembali mengirimnya pesan singkat.
.
"Assalamu'alaikum Sal. Semoga kamu selalu dalam lindunganNya, menyengaja berdua dengan RabbMu disepertiga malamNya, ditengah orang-orang yang lelap dalam tidurnya."
.
Dahinya mengerenyit, matanya menoleh ke atas sebelah kiri. Penuh tanya. Selidik dalam hati, 'siapa ya yang mengirim pesan kaleng ini ? Hmm.'
.
"Wa'alaikumsalam. Maaf ini dengan siapa ya ?", Salia membalas penasaran. Tak berapa lama pesan Salia pun kembali dibalas. "Satya, Sal. XII IPA 1." Diselipkannya emot smile diujung pesan.
.
"Hah ?" Salia terperanjat berdiri dari tempat duduknya. Berpindah dari tempat duduk meja belajar ke tempat tidur sambil terus memegang HP dengan wajah memerah dan bertanya-tanya.
.
Kulit putih langsat Salia, terlihat jelas gurat warna merah merona dipipinya. Salia ingin membalas kembali pesan tapi dirasa Ia kikuk. Speechless. Jemarinya sudah menempel pada keyword HP, memulai mengetik. Tapi Salia urungkan, dihapus kembali isi pesan balasannya. Tersungging bibir tipisnya, kemudian menaruh HP. Bergegas mengambil air wudhu. Membelai sepertiga malam dengan bersujud mengadu pada Rabb Semesta Alam.

************

Kriing kriing kriing. Tanda bel istirahat tiba. Satu persatu siswa siswi keluar kelas. Ada yang ke kantin membeli jajanan, ada yang ke perpustakaan atau ada yang tetap duduk di kelas sambil bercengkrama dengan temannya.
.
"Met, ayo !" Ajak Salia pada Mety sahabat sekaligus teman sebangkunya. "Bentar Sal. Gue mau ngambil mukena dulu", Mety sambil merapikan buku dimasukannya ke dalam tas.
.
Salia dan Mety  berjalan beriringan menuju pintu keluar kelas. Dari arah samping kanan di teras luar kelas Satya melintas agak sedikit berlari. Seketika Mety berhenti menarik tangan Salia. "Sal, Sal". Ungkap Mety agak sedikit heboh dan mereka pun berhenti di palang pintu. "Kenapa sih lu ? Kesurupan ?" Pungkas Salia ya tidak merasa aneh akan sikap sahabatnya yang suka heboh itu. "Eh elu engga lihat si Satya lewat barusan ?" Mety sambil melihat wajah sahabatnya. Salia celingak celinguk, "kagak, mana ? Biarin keles heboh banget lu." "Ah elu Sal, pangeran idaman elu kan ? Eaa." Mety menggoda. "Udah ayo cepet keburu masuk ntar kita ga shalat dhuha", terlihat wajahnya memerah sambil menarik tangan Mety.

**********

Satya. Termasuk cowok famous di sekolah. Kapten basket sekaligus sekertaris Rohis. Alim, keren dan wajahnya baby face ga sedikit cewek di sekolah pada naksir. Termasuk Salia, menyimpan simpul kekagumannya pada Satya.

**********

Setelah selesai shalat dhuha Salia memulai cerita, "Met ?". "Hemm" jawab Mety sambil merapikan kerudung. "Tadi malam ada yang kirim gue SMS", lanjut cerita Salia. "Terus?" Tanya lagi Mety. "Iya. Gue engga tahu udah tiga hari ini ada yang kirim SMS ke gue, isinya bangunin qiyamul lail gitu. Awalnya gue engga balas SMS-nya. Lama-lama gue penasaran juga. Nomor yang sama SMS pas diwaktu qiyamul lail Met. Terus akhirnya gue bales juga." Papar Salia. Serobot Mety, "terus siapa Sal ?". "Ah lu tau siapa Met ? Satya Met, Satya" jelas Salia. "Aih, serius lu ? Ciee. Haha. Beneran Sal Satya ? Ya Allah pangeran elu Sal" seperti biasa Mety heboh. "Apaan lu pengeran. Pangeran kodok ?" Kata Salia. "Terus elu jawab apa Sal ?", Mety penasaran. "Engga gue balas. Bingung juga gue mau bales apa." Ungkap Salia. "Eaa eaa eaa", sambil tertawa Mety kembali menggoda.
.
Kriing kriing kriing. Bel tanda istirahat habis. Kembali mereka bergegas masuk kelas. Dalam perjalanan Salia teringat hari ini sepulang sekolah ada kajian dengan Teh Rara. Salia, "Met, elu udah SMS Teh Rara hari ini kajian kan ?". "Udah semalam gue kabarin Teh Rara-nya. Katanya oke jam setengah 2 siang di masjid Al-Furqon." Kata Mety setengah berlari menuju kelas. "Oh. Oke." Salia menjawab.

**********

Tepat jam 13.00 bel tanda kegiatan belajar dihari itu sudah usai. Semua siswa siswi berhamburan keluar. Salia dan Mety pun bergegas keluar. Sebelum ke masjid Al Furqon, tempat kajian Islam rutin mingguan. Mereka membeli makanan mengganjal perutnya yang lapar sebelum kajian.
.
Setelah itu mereka pun pergi menuju masjid. Rupanya Teh Rara sudah menunggu mereka. "Assalamu'alaikum teh ?". "Wa'alaikumsalam", senyum lembut Teh Rara menyambut hangat Salia dan Mety. "Teh, afwan nunggu lama yah ?" Tanya Mety. "Engga kok. Ga apa-apa. Lagian kan akadnya kita jam 13.30. Sekarang jam 13.25, masih ada waktu 5 menit lagi ?", Teh Rara menjawab.
.
Kajian kali ini Teh Rara menjelaskan tentang 'Single before merried'. Ah tema yang renyah buat para remaja seusia Salia dan Mety. Hampir 2 jam kajian pun tak terasa karena saking asyiknya mendengarkan penjelasan materi dari Teh Rara. Adzan Ashar berkumandang. Setelah shalat ashar mereka malanjutkan dengan diskusi ringan seputar tema yang disampaikan.
.
Teh Rara menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan. Dalam Islam interaksi antar lawan jenis ada batasannya. Termasuk bagaimana Islam mengatur batasan interaksi via udara maupun nyata. Salia dan Mety seolah terbelalak, desir ombak menghunus pada hatinya ingin terus hijrah memperbaiki diri dan istiqomah semakin memuncak menyeruak.
.
Diluar sana banyak para remaja yang tidak malu-malu menampilkan kemesraannya dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Pacaran sudah bukan lagi hal yang aneh. Malah sebaliknya, yang memutuskan tidak pacaran malah dianggap aneh bin katro. Padahal, dalam Islam pacaran adalah aktivitas yang dilarang. Salia bersyukur bisa menahan diri, tidak terjebak pada interaksi yang belum saatnya. Cukupkan kekagumannya pada seseorang ia jadikan pecutan tuk lebih mendekatkan diri pada Allah, Rabb Semesta. Sampai saatnya tiba Ia yakin, pasti Ia akan terjebak pada seseorang yang halal diwaktu yang telah Allah siapkan.

 ~~~sekian~~~~

Kembali Melemaskan Jemari

Juli 09, 2018 0 Comments


“Memulai itu sulit. Tapi yang lebih sulit itu mempertahankannya.”

Benarlah kalimat pembuka tadi. Memulai sesuatu pasti sulit setengah mati, nah mempertahankannya ini juga tak kalah sulit, sampai tiga per empat mati. Hoho.

Yes. Pernah merasakan demikian ? pastilah pernah dong ? iya kan ? iya dong ? bagaimana sulitnya kita memulai sesuatu itu. Sebagai contoh bagaimana rasanya kita dulu saat awal pertama kali memulai memutuskan untuk berhijrah yang tadinya rambut tergurai kemana-mana lalu memutuskan untuk menutupnya ? menyempurnakan hijab sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Gimana ? sulit kan ?  

Nah, yang tak kalah sulit itu ternyata adalah mempertahankannya atau istiqomah. Yaps, sebab istiqomah butuhkan ilmu. Butuhkan lingkaran motivasi dan pengingat. Jika keduanya (ilmu dan pengingat) itu tak ada  dan tak dicari, maka kita akan mudah melepaskan azzam yang sudah kita mulai.

Termasuk hari ini, rasa-rasanya kurang greget lagi atas azzam yang sudah pernah dibuat. Menulis minimal satu minggu sekali tuk taklukan deadline. Masya Allah, Asstaghfirullah Ya Allah.

Bissmillah Tawakaltu Alallah.. Mencoba mulai kembali melemaskan jemari dan menuangkan ide yang ada pada benak, menebar kebaikan melalui aksara. Karena sejatinya menulis itu adalah seni menyampaikan kebenaran (Asri Supatmiati). 

Menuangkan ide melalui aksara inilah, semoga kelak bisa menjadi ladang pahala mengalir saat kelak kita sudah tiada. Aamiin Ya Allah.

Rabu, 27 Juni 2018

Sepenggal Kisah Memoriku

Juni 27, 2018 8 Comments



//Sepenggal Kisah Memoriku//
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Laa Ilaha Illallah...

Suara syahdu memecah kekhusuan dipenghujung malam.  Tak ada hiruk pikuk. Suasana masih sunyi senyap. Hanya yang terdengar panggilan cintaNya yang menyapa semesta. Pertanda waktunya manusia tuk membisik do'a pada bumi. Bersujud pada Rabb pencipta alam, saat sebelum hadirnya sang fajar.

Ada yang tak biasa dipembuka awal pada hari itu, yang biasanya aku hanya membawa buku pelajaran sesuai jadwal, tapi hari itu aku juga membawa 2 baju ganti. Karena semalam aku menerima pesan singkat dari sahabatku Nana yang terbaring di rumah sakit. Perutnya tak mau menerima ajakan rasa lapar, akhirnya makanan yang masuk, keluar lagi. Lantaran maag akutnya kambuh.  Jadilah kali ini dia harus kembali bersahabat dengan jarum infus dan harus menelan banyak butiran pil.  Pikirku, ah dasar kau pasti telat makan! Jadilah begini.

Kantong izin menginap sudah kudapat dari orangtuaku. Yes, aku bisa temani sahabatku yang sedang Allah uji dengan sakitnya. Waktu itu hari sabtu, jadi malam mingguku kuhabiskan bersamanya. Ya, di rumah sakit.

=======================

Suasana seisi kelas mulai gusar. Melihat ada kelas sebelah satu per satu mulai berhamburan. Nampaknya jam terakhir mereka bebas. Kami yang tak bebas, menunggu beberapa menit lagi menuju jam bebas merdeka. Beberapa diantara kami ada yang melirik pada jam yang menempel dilengannya. Akhirnya, pas jam 15.15 dering bel tiga kali pun terdengar. Pertanda waktunya seisi kelas berhamburan keluar.

"Ra, jadi ke RS ?", tanya Midah teman sebangku. "Iya, eh aku jadi nebeng yah". "Siap". Midah sambil beranjak dari bangkunya.

Scooter matic keren pada zamannya, melaju membelah kota padi yang hari ini mulai tergerus oleh perusahan-perusahan asing yang bertengger megah di tanah agrari ini. Pemandangan hijau sudah jarang ditemukan berganti dengan deretan mall, perumahan,  pusat perbelanjaan modern dan hotel menjadi penghias pembatas jalan. Duhai tanah kelahiranku. Kota Karawang, Kota Padi, Kota Pangkal Perjuangan.

========================

"Assalamu'alaikum", kubuka pintu kamar nomor 104 ruangan Cilamaya kelas II. Aku tak melihat ada sahabatku, hanya ada seorang ibu berkerudung jingga yang tersenyum padaku. "Cari siapa neng?", ibu itu bertanya. Tak lama ibunya Nana keluar dibalik gorden,  "Eh Dhira, ayo sini!  Nana disini". Aku hanya membalas sapaan ibu berkerudung jingga itu dengan senyuman.

Nampaknya Nana sudah agak mulai baikan. Tak ada ekspresi wajah kesakitan. Hanya saja masih terlihat pucat dan lemas. Sampai menjelang tidur, aku dan Nana masih melanjutkan bercerita kesana kemari tentang keseruan apa yang sudah pernah kami lakukan. Kami bersahabat dari kecil. Jadi, sudah banyak episode yang kami lalui bersama. Bersyukur, masih bisa melihat keadaannya dan menghiburnya disaat dia kepayahan menghadapi ujian sakitnya.

=========================

Esok harinya, aku melihat pasien sebelah tempat tidur Nana yang hanya dibatasi dengan kain gorden. Kebetulan kain gorden pembatas itu dibuka. Dia yang sedang duduk diranjang sambil mengoyang-goyangkan kaki seraya jarum infus yang masih menempel. "Na, dia sakit apa ?" tanyaku penasaran. "Anemia sama hepatitis katanya ra" jawab Nana. Aku, "oh, dia anak SD kelas 5 kayaknya ya? Kasian ya? ". "Bukan Dhira, dia seumuran kita tahu". Hah aku yang tak percaya melihat pasien sebelah yang terlihat seperti anak SD ternyata seumuranku, gadis SMA 16 tahun. Ya Allah kok bisa ya pikirku.  


Tak terasa, kembali panggilan cintaNya hadir menyapa. Hangatnya mentari persis di atas bumi mulai membisikan bahwa saatnya manusia kembali untuk bersujud, bertekuk lutut padaNya. Memohon ampun dan meminta kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kugelar sajadah di pojok kamar ruangan Cilamaya nomor 104.

Selesai salam. Ternyata ada yang memperhatikanku dari kejauhan. Dia tersenyum lebar padaku. Senyuman itu mengguratkan kerutan disamping mata kanan dan kirinya. Seperti pertanda senyum kerinduan. Tangan kirinya, nampak sudah akrab sekali dengan jarum infus. Kali ini dia duduk di kursi di samping ranjangnya,  lagi-lagi sambil mengayun-ayunkan pelan kedua kakinya kedepan kebelakang. Dia tak banyak bicara, tingkahnya persis anak SD kelas 5.



Selesai merapikan sajadah dan mukena kuhampiri dia. Kutanya namanya siapa, kudekati lalu kupegang tangannya. Dia hanya meresponku dengan senyuman. "Namanya Ika neng." seorang ibu dari belakangku menjawab. Nampaknya ibu berkerudung jingga yang kemarin itu adalah ibunya Ika. "Oh Ika ya. Ika kenapa? Ika mau shalat? " dia masih tak merespon, kembali hanya melempar senyuman. "Ika mau shalat ? " tanyaku lagi. Kali ini aku terhenyak, seolah ada desir halus yang menyergap. Entah yang kurasakan saat itu saat mendengar yang Ika ucapkan. "Awoh" sambil menepuk beberapa kali dadanya. Spontan aku bertanya kembali,  "Ika kangen Awoh? ". Kali ini dia tak menempali, hanya yang terlihat guratan dikedua samping matanya, bibirnya tersungging melebar, kembali ia hanya melempar senyuman. Lirihku, ya Allah. Mungkin Awoh yang Ika maksud adalah Allah. Atau Awoh adalah shalat. Entahlah, dia tak begitu jelas mengatakannya. Pantas saja ia tak banyak bicara, untuk bicara saja ia merasa kesulitan, seperti anak usia dini yang sedang belajar bicara. Aku menahan sesak. Menyeruak di dada. Tak terasa kontan pelupuk mataku berkaca. Namun sebisa mungkin kutahan agar tak jatuh di pipi.

Ibunya menghampiri kami, kemudian beliau bercerita keadaan Ika. Awalnya Ika mengeluh sakit perut karena maag. Sakitnya berlanjut sampai dia pernah tak bisa berjalan selama hampir satu bulan. Berbagai obat sampai terapi apapun sudah diikhtiari kedua orangtua Ika. Sampai akhirnya sekarang di sini sudah 10 hari. Sebelumnya juga sudah akrab sekali dengan bau khas rumah sakit. HB yang sangat rendah mengharuskan ia transfusi. Pernah sampai transfusi 2 kantong darah dimasukan kedalam tubuhnya tak sampai berapa lama habis. Ibunya meneruskan jika sekarang juga sedang menunggu rujukan untuk pindah ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, katanya rumah sakit di sini tak cukup alat untuk menangani penyakit yang diderita Ika. Aku sempat memotret papan diagnosanya Ika. Tapi sepertinya terhapus dimemori HP lamaku. Entah jelasnya Ika menderita penyakit apa. Yang jelas rambutnya Ika sudah mulai rontok banyak.

Ibunya Ika selalu tersenyum kala melihatku. Rupanya mungkin beliau berharap Ika bisa sembuh seperti sedia kala. Seperti aku. Bisa beraktivitas biasa. Bisa bersekolah menggapai apa yang menjadi tujuan. Menjadi kebanggaan orangtua dan keluarga. Karena sakit yang lama, mengharuskan Ika terhenti tak melanjutkan bangku sekolah di kelas 2 SMA. Beliau bercerita, sebelum sakit Ika itu seperti anak biasa. "Sama seperti neng Dhira". Kata beliau sambil memperlihatkan foto cantik anaknya memakai kerudung ungu.



============================

Perasaanku berkecamuk, helaan nafasku terasa ada yang menghimpit. Sesak. Kaki kuberjalan tidak seperti biasa. Rasanya berjalan di koridor rumah sakit seperti tak menemui ujung jalan. Langkah kakiku lamban mengikuti benak yang sedang mengajakku bicara.

Ya Allah, rasanya tak ada alasan untukku tak mensyukuri semuanya. Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān (Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?). Nikmat sehat sering kuabaikan juga nikmat waktu luang yang kugunakan untuk suatu hal yang tak bermanfaat. Maafkan aku Ya Allah. Maafkan aku yang hina dina. Maafkan diusia mudaku kujalani dengan penuh penyesalan dikemudian. Aku yang waktu itu baru belajar menutup aurat dengan jibab dan khimar. Semakin tumbuhkan keyakinan inilah petunjukMu yang benar. Terimakasih Ika kau mengajarkanku akan setiap detik adalah hal berharga. Lahaula wala quwata illabillah. Mudahkan niat hijrahku ya Allah.

Terimakasih ya Allah, Kau telah pertemukanku dengan gadis manis yang kuat. Menerima qodoMu dengan penuh keikhlasan. Tak kulihat keluhan diwajahnya. Juga ibunya yang ikhlas menerima setiap qodo dariMu melalui anaknya. Aku banyak belajar dari mereka.

Masih di koridor rumah sakit dalam perjalanan menuju pulang batinku berguman. Suatu saat aku akan menuliskan sepenggal kisah ini saat bersamamu. Semoga kelak aku bisa kembali melihatmu dalam keadaan sehat. Bersama Nana kita kan menjadi sahabat. Menggenggam bara hijrah.

Ah rasanya sulit dipercaya. Azzamku 7 tahun yang lalu baru aku penuhi hari ini. Di pojok ruangan semediku di atas meja belajar anakku aku menuliskan kisahku saat bersamamu juga bersama Nana pada hari itu. Harapku tuk bisa melihatmu kembali, tuk kita bisa merajut ukhuwah, tuk bisa saling bercerita keluarga masing-masing, ternyata Allah tangguhkan. Karena 2 bulan setelah kepulangan Nana dari rumah sakit aku mendapat kabar duka bahwa kau telah berpulang. Ika, semoga kau husnul khotimah, semoga kau husnul khotimah. Aku masih berharap tuk bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa dipertemukan Allah pada jannahNya. Aamiin Ya Rabb.

Waspada ! Tiga Virus Ini Menghantui Remaja

Juni 27, 2018 0 Comments
Generasi Z. Begitu label yang melekat pada remaja zaman now. Menampilkan wajah kekinian. Doyan berseliweran di lini masa. Eksis. Mengekspose beragam tingkah polah.

Melihat kelakuan generasi micin (istilah serupa generasi Z) bikin geleng-geleng kepala. Remaja yang seharusnya menjadi tonggak estafet peradaban. Ini terlena dengan gaya hidup mengkiblat pada style ala Barat.

Pergaulan tak berbatas. Remaja bablas. Terjerumus pada free sex. Narkoba dan mabok minuman dianggap hal wajar. Tawuran sudah biasa. Dengan dalih mumpung masih muda. Kampanye-kampanye murahan seperti  v-day jadi sasaran empuk menggempur pemikiran para remaja. Agar jauh dari identitas mereka sebagai seorang hamba. Survei Angka penyimpangan perilaku pada remaja zaman now juga bikin puyeng kepala.

Kita mesti tahu. Kenapa generasi Z bisa seperti itu. Jawabannya tak lain dan tak bukan karena mereka terkena serangan virus dahsyat dan masif. Virus yang membahayakan jika dibiarkan akan terus menggerogoti tubuh umat dan peradaban.

  1. Hedonisme


Remaja yang terkena virus ini, dia ngga mau memikirkan yang pusing pusing. Maunya yang happy happy saja. Soal pelajaran sekolah pun ogah buat dipikirin apalagi dikerjain. Senangnya pergi clubbing atau nongkrong sampai larut. Biasanya doyan shoping. Yang penting happy setiap saat.

Tulisan ini tayang di media remaja. Selengkapnya silakan buka link :

http://www.soeara-peladjar.com/2018/02/waspada-tiga-virus-ini-menghantui-remaja.html

Merindui Taman-taman Surga

Juni 27, 2018 0 Comments
Pernahkah bertanya seberapa indah surga ? Membayangkannya saja hati ini takjub. Berbinar penuh harap. Merindu pada waktu. Dambaan semua insan.

Surga adalah tempat terindah dengan segala kenikmatan. Segala gemerlap dunia hanya setetes dibandingkan dengan pesona keindahan surga. Diciptakan-Nya untuk manusia yang taqwa.


Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata.

Mereka bersandar diatasnya berhadap-hadapan,

Mereka dikelilingi oleh anak muda yang tetap muda,

dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air mengalir,

Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,

dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih,

dan daging burung apa pun yang mereka inginkan,

Ada bidadari-bidadari yang bermata indah,

Laksana mutiara tersimpan baik.

Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. (TQS. Al-Waqi'ah : 15-24)

Memejamkan mata merenungi firmanNya, amatlah rindu akan hari itu. Pesona surga begitu menawan. FirmanNya jualah kabar bagi insan yang iman. Akhirat kampung halaman abadi nan hakiki.

Aroma harum surga telah dikabarkan RasulNya, dapat dicium sejauh-jauhnya. Jika saja surga yang dirindukan amatlah panjang perjalanan, terjal dan berliku. Namun sebetulnya keindahan taman-taman surga dunia bisa kita rengkuh saat ini.

Indahnya Taman Surga Dunia

"Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah. Mereka bertanya, ”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, "Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi).
Iya itulah taman-taman surga. Taman surga yang RasulNya kabarkan. Adalah memenuhi undangan untuk kita hadir di majelis-majelis ilmu, dihalaqoh-halaqoh, berkumpul dengan para pengharap ridhoNya, menuntut ilmu, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya." (Riwayat Muslim).
Ma shaa Allah. Nikmatnya taman-taman surga itu. Tanpa kita tahu ternyata Allah memberikan empat kenikmatan jika kita duduk di taman-taman surgaNya.

Yang pertama kita akan mendapatkan ketenangan hati. Kemudian rahmat Allah akan mengalir. Dan siapa yang tak inginkan do'a dari para penduduk langit (malaikat) ? Do'a yang tak pernah Allah tolak. Malaikat akan mendo'akan yang baik-baik jika kita duduk di majelis ilmu. Juga pujian siapa lagi selain pujian tertinggi yang didapat manusia selain pujian dari Allah ? Ma shaa Allah.
Jika kita amat merindu surga. Maka seharusnya kita lebih rindu akan taman surga yang bisa kita penuhi hari ini. Sebelum kita diminta kembali oleh-Nya ke kampung halaman azali.

Tapi sayang, masih banyak manusia yang sibuk dengan urusan dunianya. Hingga merasa tak ada waktu untuk hadir duduk menikmati taman surga. Masih banyak yang merasa sibuk dengan perniagaan, pekerjaan, urusan rumah tangga, urusan anak, dan sederet alasan lainnya. Padahal, jika sejengkal saja kita mendekati Allah, maka Dia akan melangkah pada kita. Jika saja kita melangkah mendekati Allah, maka Dia akan berlari menghampiri kita. Artinya, dengan niat sungguh-sungguh dan mengupayakan maksimal untuk hadir duduk di majelis ilmu, niscaya Allah akan memudahkan segalanya.

Para Perindu Surga

Duhai muslimah yang selalu tertaut hatinya pada pencipta semesta. Segala aktivitas harian kita janganlah jadikan rantai gajah yang lantas dijadikan alasan untuk kita tidak menghadiri undangan RasulNya. Duduk bersama bidadari-bidadari dunia yang mengejar cinta-Nya di majelis-majelis ilmu.
Kita yang butuh ilmu. Bukan ilmu yang membutuhkan kita. Ilmu Allah itu luas. Luas sekali. Di taman-taman surga-Nya lah kita bisa mendapatkan ilmu. Lalu kita amalkan sebagai kelak bekal dikehidupan yang abadi.



Tulisan ini tayang di solihat,net. Selengkapnya silakan buka link :

http://sholihah.net/2018/01/20/merindui-taman-taman-surga/

Seutas Harapan Si Pendosa

Juni 27, 2018 0 Comments


Helaan nafasnya panjang. Tiara menaruh ponselnya. Tubuhnya lunglai. Hingga Ia tak terasa duduk melemah dibawah. Bersandar pada kursi meja belajar disebelahnya. Diseberang sana, lawan bicaranya masih memanggil-manggil namanya. Tapi, tak dihiraukannya. Kembali Tiara memegang ponsel lalu mematikan panggilan yang masih berjalan. Kembali Ia menghela nafas panjang. Sesak menyeruak terasa. Memejamkam mata. Bibirnya kelu. Kedua tangan menutupi wajahnya. Hingga tak terasa, ada yang mengalir membasahi pipinya. Diusapnya berulang kali, tetap saja masih deras. Mencoba menahan suara segukan. Ia tak bisa. “Ya Allah, aku gagal”, lirihnya. Perasaannya berkecamuk. Ia marah, kesal, kecewa, sedih. Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini Ia menerima pesan singkat. “Semua yang kamu katakan benar Tiara. Maafkan aku yang tak mengindahkan nasihatmu. Aku harus gimana ? Bantu aku Tiara?!”. Diakhiri emotikon menangis.

Tangannya bergetar saat mambaca pesan singkat itu. Kembali air matanya deras mengalir. Ia terbangun dari bawah tempat Ia duduk. Kemudian, setengah membanting merebahkan tubuhnya.  “Ya Allah... Maaf aku gagal menjadi sahabatmu Mil. Maafkan aku ya Allah. Maafkan aku ya Allah”, gumamnya dalam hati. Lalu, tak henti-henti Ia beristrighfar sampai tak terasa Ia terlelap dalam dekapan gelap malam yang pekat.

**********

Sepertiga malam kembali menyapa lembut. Semilir angin menyibak halus dari balik fentilasi jendela kost-kostannya. Seperti ada alarm otomatis dari sinyal tubuhnya. Saat sepertiga malam hadir menyapa, Ia selalu terbangun. Tak menunggu waktu lama. Ia dekap erat sepertiga malamnya. Tak ingin melewatkan waktu saat Allah hadir langsung menyaksikan do’a setiap hambaNya. Ia beserta manusia pilihan lainnya, bertekuk lutut pada Rabb Pencipta Semesta. Memohon pertolongan dalam segala urusan. Meminta petunjuk jalan wahyu dan tetap menggenggam bara hijrah yang Ia temukan pada cahaya Islam.

Selesai qiamul lail, Ia melihat ponselnya. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat dari Mila sabahabat kecilnya. Pesan singkat yang menggoreskan luka pada hatinya. Menganga dan sakit sekali. Merasa dirinya sahabat yang tak berguna. Merasa gagal menjalankan peran sahabat. Merasa manusia yang paling bodoh. Tidak maksimal mengingatkan sahabatnya. Beberapa kali Tiara meyalahkan dirinya sendiri. Merasa menjadi sahabat yang tak berarti. Saat Ia tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Mila. Sudah melakukan seks diluar nikah dengan Dimas yang memacarinya semenjak Mila kuliah. Asstaghfirullah.

Lambaian lembut sepertiga malamnya, kini ia hiasi dengan penuh penyesalan sebagai sahabat yang lalai. Derai air mata seakan sulit diseka. “Allah... Allah... Maafkan aku...

***********

Hari ini adalah UTS terakhir. Tiara berencana setelah selesai UTS, akan meluncur ke kampung halamannya bertemu ayah ibu dan kedua adiknya yang sudah satu semester tak ia kunjungi dan tak sabar Tiara juga akan menemui Mila sahabatnya.

Mila adalah sahabat kecil Tiara. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah mereka selalu bersama. Hanya saja, menginjak perguruan, Tiara mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi negeri favorit di kota besar. Dan Mila harus bisa pasrah berpisah dengan sahabatnya itu dengan berkuliah di kampus negeri kabupaten kota. Orangtuanya yang agnia, sebetulnya bisa saja menyekolahkan Mila ke perguruan tinggi di kota besar. Hanya saja, karena Mila anak satu-satunya, jadi kedua orangtuanya tak merelakan berpisah dengan anaknya jika harus menetap di luar kota. Walaupun sebetulnya, kedua orangtua Mila tak pernah ada di rumah karena sibuk bekerja.

***********

Setelah UTS, Tiara pun memutuskan pulang ke kampung halaman. Sesampainya dirumah. Tiara rehat sejenak lalu memutuskan langsung menuju ke rumah Mila yang tak jauh dari rumahnya.

“Assalamu’alaikum, Mila”. Tiara sambil mengetuk pintu rumah Mila. Tak berapa lama terdengar jawaban salam dari Bi Anah asisten rumahtangga keluarga Mila, “Wa’alaikumsalam. Eh Maa shaa Allah neng Tiara. Kumaha sehat neng ? Neng Tiara atuh meni baru kesini.” “Iya bi. Alhamdulillah sehat. Bi, Mila ada dirumah ?” tanya Tiara. “Neng Mila ada di kamarnya. Udah tiga hari ga mau keluar neng. Wajahnya pucat. Ga mau makan neng. Coba atuh hibur sama neng Tiara. Tanya kenapa?!”, Bi Anah memelas memberitahu kondisi Mila. “Om Tante kemana Bi ?” Tanya Tiara. “Bapak sama Ibu keluar kota neng, udah 4 hari. Ibu sama Bapak udah Bibi SMS. Katanya hari ini pulang.”, Bi Minah bercerita sambil berjalan bersama Tiara menuju kamar Mila. “Bibi ke belakang ya, mau nyuci belum selesai.” Bi Anah meninggalkan Tiara.

“Assalamu’alaikum Mil ? Ini aku”, Tiara mengetuk pintu kamar Mila. “Wa’alaikumsalam, masuk Tiara”, terdengar suara sendu Mila di balik pintu. Dibukanya pintu, dihampirinya Mila dan dipeluknya sahabat kecilnya itu dengan erat. Mila yang pucat sambil segukan menceritakan kegundahannya pada Tiara sahabat kecilnya.

Dimas saat mengetahui Mila telat haidh, langsung tak bisa dihubungi. Ditelpon, SMS, WA, chat sosmed hasilnya nihil. Dimas tak membalas. Hanya diread. Sebelumnya Mila menyambangi ke kost-kostan yang tak jauh dari kampus keduanya juga tak ada hasil. Kata Ibu kost, sudah satu minggu Dimas tak ada di kost-kostan. Menanyakan pada teman kampus pun, mereka tak mengetahui keberadaan Dimas. Entah kemana. Sekalinya ponselnya aktif, tak berapa lama tidak aktif lagi. Mila kehilangan jejak Dimas. Bualan murahan bujuk rayu Dimas sebelumnya yang akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa. Tak Ia tepati. Hingga akhirnya Mila kelelahan mencari Dimas. Mila hancur sehancur-hancurnya. Kehormatannya terenggut. Mahkotanya tak lagi berharga. Mila kalut. Depresi. Menyesali apa yang sudah Ia perbuat. Disatu sisi, sebenarnya Ia tak mau kehilangan Dimas. Bagaimana mungkin melahirkan anak tanpa bapak? Ya, ternyata Mila positif hamil. Asstaghfirullah.

Wajahnya pucat pasi. Tiga hari tak masuk makanan. Tubuhnya melemah. Matanya sembab. Tiara yang juga sebenarnya marah, kesal, sedih menahan kecamuk perasaannya dengan memeluk erat sahabatnya. “Mil, Mila. Kakimu berdarah Mil”, teriak Tiara kaget. “Ya Allah, Ya Allah.Tiara kenapa perutku sakit. Sakit ya Allah sakit. Asstaghfirullah sakit ra...” teriak Mila kesakitan. “Bi Anah .... Bibi.....”

**********

“Tahan ya Mil, tahan.” Tiara membawa Mila menuju IGD rumah sakit. “Neng Mila, sabar ya neng. Istighfar neng. Sebentar lagi Ibu dan Bapak sedang menuju kesini.” Bi Anah yang ikut mendampingi panik.

Darah yang banyak mengalir dan teriakan rasa sakit Mila pecah dalam kebisuan. Tak menunggu lama, langsung ditangani oleh tim dokter IGD. Mila yang masih ditangani dokter, ayah dan ibu Mila yang dari luar kota sampai rumah sakit. “Gimana bi Mila ?” tanya ibunya panik. “sedang ditangani dokter tante.” Tiara menenangkan ibunya Mila. “Ya Allah ini ada Tiara? Makasih ya neng. Sebenarnya kenapa Mila neng ?”. “Tiara belum tahu tante, tahu-tahu keluar darah dan perut Mila sakit katanya tante”, Tiara coba menjelaskan.

Tak berapa lama, dokter keluar rauangan pemeriksaan Mila. Dokter menuturkan bahwa Mila harus dikiret karena mengalami keguguran hamil muda. Sontak kedua orangtua Mila kaget bak disambar petir disiang bolong. Ibunya meronta. Tak percaya atas apa yang terjadi menimpa putrinya. Ayahnya marah dan kecewa pada putri semata wayangnya. Ayahnya mengamuk. Tak kuasa menahan kekecewaan. Disatu sisi, ibunya merasa ada penyesalan, tersadarkan bahwa Ia lalai dalam mendidik anaknya. Akhirnya keduanya meronta menangis sejadi-jadinya. Sampai ibu Mila tak sadarkan diri.

*********

Keadaan mulai mencair. Tak sebeku kemarin. Mila mulai membaik. Kedua orangtua Mila mulai sedikit mau menerima keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Tiara menceritakan semua yang dialami Mila kepada kedua orangtuanya. Sampai akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke tempat asal ibunya di Jogja. Memulai kehidupan baru, meski harus melupakan sosok laki-laki yang masih Mila harapkan. Ya, Dimas. Disatu sisi, Ia harus memulai kehidupan baru melupakan episode masa kelamnya. Dilain sisi, Ia masih berharap kedatangan Dimas agar mau bertanggungjawab walau buah cinta hasil zinanya itu telah tiada. Walau hanya kata maaf yang terucap. Namun, tidak demikian. Penantian selama tiga bulan sebelum Ia berpindah tak kunjung Ia dapatkan. Dimas hilang bak ditelan bumi. Akhirnya, Ia pun terpaksa harus menyetujui keinginan orangtuanya untuk berpindah tempat tinggal ke Jogja.

Semenjak itu dan sebelum Mila berpindah. Tiara tak ingin menjadi sahabat yang gagal untuk kedua kalinya.Tiara tak henti-hentinya menyemangati Mila. Terus mengingatkannya pada kebaikan dan ketaatan. Tak ada kata terlambat untuk kembali pada Allah. Masih ada seutas harapan bagi kita yang sejatinya adalah si pendosa hebat. Masih ada kesempatan, selagi kita hidup. Kita bersama perbaiki semuanya. Tiara terus menerus memberikan nasihat dan semangat. Tiara yang semenjak kuliah aktif dikajian, perhalaqohan dan gerakan dakwah ideologis juga menjelaskan tentang hukuman Islam bagi pelaku zina. Bahwasannya, Islam memandang zina itu sebagai tindakan kriminal yang harus dihukumi dengan hukum Islam sesuai dengan Al-qur’an. Dalam (terjemahan surat  An-nur : 2) Tiara terus menjelaskan :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduannya seratus kali dera, danjanganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Setelah mendapatkan penjelasan detail dari sahabatnya. Mila menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali semua perbuatannya. Ia ingin tobat secara total. “Bagaimana caranya aku bisa dicambuk Tiara ? Aku ingin dicambuk! Menebus segala dosa zinaku di dunia. Aku tak mau, kelak aku dibangkitkan Allah dan aku dihukum di akhirat karena dosa zinaku”. Mila serius menanyakannya, Ia tak takut dicambuk. Justru Ia menginginkannya. Karena sekarang Ia meyakini. Bahwa hukum Islam ketika dilaksanakan di dunia, maka kelak di akhirat Allah tidak akan menagih lagi dosa zinanya.

Lalu, Tiara kembali menjelaskan bahwasannya hari ini umat Islam tak bisa melaksanakan hukuman itu. Karena belum ada sistem penerapan syari’ah Islam secara kaffah ditengah kehidupan di wilayah manapun. Hukuman Islam yang akan membuat jera tadi, akan bisa dijalankan tatkala ada satu negara yang menjalankan syari’ah Islam secara sempurna dalam bingkai khilafah. Bla bla bla, dijelaskannya Tiara kepada Mila secara detail. Hingga akhirnya, Mila memutuskan untuk berjuang agar hukum Islam bisa diterapkan secara sempurna. Memilih untuk menjadi seorang pejuang syari’ah dan khilafah.

*********

Setiba di tempat kehidupan barunya, di Jogja. Tiara sudah menitipkan Mila kepada Mbak Ajeng kakak tingkat yang sudah lulus sekaligus musryfah / guru ngajinya pada saat di kampus. Bukan hanya hijrah tempat. Mila juga berazzam hijrah menuju pada jalan Islam. Memilih jalan ketaatan.

Sampai lima tahun berjalan. Tsaqofah Islamnya semakin mendalam. Kini, Ia menjadi muslimah yang taat. Ia hibahkan sisa hidupnya untuk berjual beli dengan Allah di jalan dakwah. Gaya hidup bebas yang sebelumnya Ia jalani, berubah dengan menjadikan Islam sebagai poros hidupnya. Hedonis yang sebelumnya menjadi tujuan, kini berubah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.

Masalah jodoh, sudah lama Ia harus menguburnya. Pikirnya, siapa yang mau padanya yang sudah tak memiliki kehormatan. Walau sebetulnya ada rasa menggelayut keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Namun, berkali-kali Ia alihkan perasaan itu. Sampai akhirnya, Ia ditawari seorang ikhwan sholeh penghafal al qur’an oleh Mbak Ajeng. Awalnya Ia menolak. Namun, mencoba Mbak Ajeng menjelaskan. Bahwa yang sudah terjadi, jangan dijadikan momok menakutkan untuk melangkah kedepan. Jadikan itu semua lecutan untuk kita terus perbaiki diri. Sampai akhirnya, Mila mau tapi dengan memberikan dua syarat. Syarat pertama, bahwa kepada Mbak Ajeng-lah Mila menyerahkan sepenuhnya. Ia tak mau melihat cv / biodata ikhwan itu. Jika Mbak Ajeng setuju, Ia yakin dan percaya bahwa pilihan musryfahnya adalah pilihan terbaik menurut Allah. Yang kedua, Mbak Ajeng harus menjelaskan kepada ikhwan tersebut tentang masalalunya. Ia tak mau ada yang disembunyikan darinya. Bahwa Ia adalah mantan pezina.

Setelah bertukar informasi tanpa Mila melihat cv-nya. Tanpa Mila ingin mengetahu informasinya. Tak disangka ternyata ikhwan tersebut memilih melanjutkan proses ke jenjang lebih lanjut. Lalu, tibalah saatnya, Mila dan ikhwan tersebut saling bertatap muka ditemani dengan masing-masing mahramnya.

Ahad, hari ke tujuh belas dibulan ramadhan mereka bertemu di kediaman Mbak Ajeng. Saat ikhwannya datang, hal yang tak pernah Mila duga. Ternyata ikhwan sholeh penghafal Al- qur’an itu adalah Dimas. Laki-laki yang dulu tak bertanggungjawab menghamilinya. Kontan Mila beranjak dari tempat duduknya sambil berderai meninggalkan ruang tamu tempat mereka bertemu. Mba Ajeng mengejarnya, lalu membujuk dan menjelaskannya. Bahwa Ia tak tahu jika Dimas adalah masalalunya.

Ditengah gejolak batin Mila yang hebat dan tangisan yang semakin menderu. Dimas dan suami Mba Ajeng menghampiri keduanya, “Mila, maafkan aku yang dulu. Aku lari dari tanggungjawabku. Kamu simpan derita dari kemaksiatan yang kita perbuat dulu seorang diri”. “Lantas, kau hendak membuka luka lama yang tak berkesudahan membekas ?”, Mila pecah dalam tangisnya. “Tidak Mila. Aku ingin perbaiki semuanya. Seribu maaf mungkin tak akan menghilangkan lukamu. Namun, izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu dengan bersama kita menuju jalan ketaatan pada Allah. Berjuang bersama dalam dakwah. Mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan. Memperjuangkan syari’ah Allah. Bersama perbaiki diri. Agar kelak di akhirat Allah tidak menghukumi kita sebagai seorang pezina. Mila, setelah kejadian itu, aku sadar dan aku terus memperbaiki diri. Aku mencarimu. Aku tak menemukanmu. Hingga qodoNya, yang menghantarkanku pada jalan ini dan bertemu denganmu. Allah mengabulkan do’a-do’aku untuk kembali bertemu denganmu. Mila, kita buka lembaran baru. Maukah kau menjadi ibu dari anak-anaku ?”

-Sekian - Selasa, 03 April 2018 00.08