Helaan nafasnya panjang. Tiara
menaruh ponselnya. Tubuhnya lunglai. Hingga Ia tak terasa duduk melemah
dibawah. Bersandar pada kursi meja belajar disebelahnya. Diseberang sana, lawan
bicaranya masih memanggil-manggil namanya. Tapi, tak dihiraukannya. Kembali
Tiara memegang ponsel lalu mematikan panggilan yang masih berjalan. Kembali Ia
menghela nafas panjang. Sesak menyeruak terasa. Memejamkam mata. Bibirnya kelu.
Kedua tangan menutupi wajahnya. Hingga tak terasa, ada yang mengalir membasahi
pipinya. Diusapnya berulang kali, tetap saja masih deras. Mencoba menahan suara
segukan. Ia tak bisa. “Ya Allah, aku
gagal”, lirihnya. Perasaannya berkecamuk. Ia marah, kesal, kecewa, sedih.
Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini Ia menerima pesan
singkat. “Semua yang kamu katakan benar
Tiara. Maafkan aku yang tak mengindahkan nasihatmu. Aku harus gimana ? Bantu
aku Tiara?!”. Diakhiri emotikon menangis.
Tangannya bergetar saat mambaca
pesan singkat itu. Kembali air matanya deras mengalir. Ia terbangun dari bawah
tempat Ia duduk. Kemudian, setengah membanting merebahkan tubuhnya. “Ya Allah...
Maaf aku gagal menjadi sahabatmu Mil. Maafkan aku ya Allah. Maafkan aku ya
Allah”, gumamnya dalam hati. Lalu, tak henti-henti Ia beristrighfar sampai
tak terasa Ia terlelap dalam dekapan gelap malam yang pekat.
**********
Sepertiga malam kembali menyapa
lembut. Semilir angin menyibak halus dari balik fentilasi jendela kost-kostannya.
Seperti ada alarm otomatis dari sinyal tubuhnya. Saat sepertiga malam hadir
menyapa, Ia selalu terbangun. Tak menunggu waktu lama. Ia dekap erat sepertiga
malamnya. Tak ingin melewatkan waktu saat Allah hadir langsung menyaksikan do’a
setiap hambaNya. Ia beserta manusia pilihan lainnya, bertekuk lutut pada Rabb
Pencipta Semesta. Memohon pertolongan dalam segala urusan. Meminta petunjuk
jalan wahyu dan tetap menggenggam bara hijrah yang Ia temukan pada cahaya Islam.
Selesai qiamul lail, Ia melihat
ponselnya. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat dari
Mila sabahabat kecilnya. Pesan singkat yang menggoreskan luka pada hatinya.
Menganga dan sakit sekali. Merasa dirinya sahabat yang tak berguna. Merasa
gagal menjalankan peran sahabat. Merasa manusia yang paling bodoh. Tidak maksimal
mengingatkan sahabatnya. Beberapa kali Tiara meyalahkan dirinya sendiri. Merasa
menjadi sahabat yang tak berarti. Saat Ia tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Mila.
Sudah melakukan seks diluar nikah dengan Dimas yang memacarinya semenjak Mila
kuliah. Asstaghfirullah.
Lambaian lembut sepertiga
malamnya, kini ia hiasi dengan penuh penyesalan sebagai sahabat yang lalai. Derai
air mata seakan sulit diseka. “Allah...
Allah... Maafkan aku...”
***********
Hari ini adalah UTS terakhir.
Tiara berencana setelah selesai UTS, akan meluncur ke kampung halamannya
bertemu ayah ibu dan kedua adiknya yang sudah satu semester tak ia kunjungi dan
tak sabar Tiara juga akan menemui Mila sahabatnya.
Mila adalah sahabat kecil Tiara.
Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah mereka selalu bersama. Hanya saja,
menginjak perguruan, Tiara mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi negeri
favorit di kota besar. Dan Mila harus bisa pasrah berpisah dengan sahabatnya
itu dengan berkuliah di kampus negeri kabupaten kota. Orangtuanya yang agnia,
sebetulnya bisa saja menyekolahkan Mila ke perguruan tinggi di kota besar. Hanya
saja, karena Mila anak satu-satunya, jadi kedua orangtuanya tak merelakan
berpisah dengan anaknya jika harus menetap di luar kota. Walaupun sebetulnya,
kedua orangtua Mila tak pernah ada di rumah karena sibuk bekerja.
***********
Setelah UTS, Tiara pun memutuskan
pulang ke kampung halaman. Sesampainya dirumah. Tiara rehat sejenak lalu
memutuskan langsung menuju ke rumah Mila yang tak jauh dari rumahnya.
“Assalamu’alaikum, Mila”. Tiara sambil mengetuk pintu rumah Mila.
Tak berapa lama terdengar jawaban salam dari Bi Anah asisten rumahtangga
keluarga Mila, “Wa’alaikumsalam. Eh Maa
shaa Allah neng Tiara. Kumaha sehat neng ? Neng Tiara atuh meni baru kesini.”
“Iya bi. Alhamdulillah sehat. Bi, Mila ada dirumah ?” tanya Tiara. “Neng Mila ada di kamarnya. Udah tiga hari
ga mau keluar neng. Wajahnya pucat. Ga mau makan neng. Coba atuh hibur sama
neng Tiara. Tanya kenapa?!”, Bi Anah memelas memberitahu kondisi Mila. “Om Tante kemana Bi ?” Tanya Tiara. “Bapak sama Ibu keluar kota neng, udah 4
hari. Ibu sama Bapak udah Bibi SMS. Katanya hari ini pulang.”, Bi Minah
bercerita sambil berjalan bersama Tiara menuju kamar Mila. “Bibi ke belakang ya, mau nyuci belum selesai.” Bi Anah
meninggalkan Tiara.
“Assalamu’alaikum Mil ? Ini aku”, Tiara mengetuk pintu kamar Mila. “Wa’alaikumsalam, masuk Tiara”,
terdengar suara sendu Mila di balik pintu. Dibukanya pintu, dihampirinya Mila
dan dipeluknya sahabat kecilnya itu dengan erat. Mila yang pucat sambil segukan
menceritakan kegundahannya pada Tiara sahabat kecilnya.
Dimas saat mengetahui Mila telat
haidh, langsung tak bisa dihubungi. Ditelpon, SMS, WA, chat sosmed hasilnya
nihil. Dimas tak membalas. Hanya diread. Sebelumnya Mila menyambangi ke
kost-kostan yang tak jauh dari kampus keduanya juga tak ada hasil. Kata Ibu
kost, sudah satu minggu Dimas tak ada di kost-kostan. Menanyakan pada teman
kampus pun, mereka tak mengetahui keberadaan Dimas. Entah kemana. Sekalinya
ponselnya aktif, tak berapa lama tidak aktif lagi. Mila kehilangan jejak Dimas.
Bualan murahan bujuk rayu Dimas sebelumnya yang akan bertanggungjawab jika
terjadi apa-apa. Tak Ia tepati. Hingga akhirnya Mila kelelahan mencari Dimas.
Mila hancur sehancur-hancurnya. Kehormatannya terenggut. Mahkotanya tak lagi
berharga. Mila kalut. Depresi. Menyesali apa yang sudah Ia perbuat. Disatu
sisi, sebenarnya Ia tak mau kehilangan Dimas. Bagaimana mungkin melahirkan anak
tanpa bapak? Ya, ternyata Mila positif hamil. Asstaghfirullah.
Wajahnya pucat pasi. Tiga hari
tak masuk makanan. Tubuhnya melemah. Matanya sembab. Tiara yang juga sebenarnya
marah, kesal, sedih menahan kecamuk perasaannya dengan memeluk erat sahabatnya.
“Mil, Mila. Kakimu berdarah Mil”, teriak
Tiara kaget. “Ya Allah, Ya Allah.Tiara
kenapa perutku sakit. Sakit ya Allah sakit. Asstaghfirullah sakit ra...”
teriak Mila kesakitan. “Bi Anah ....
Bibi.....”
**********
“Tahan ya Mil, tahan.” Tiara
membawa Mila menuju IGD rumah sakit. “Neng
Mila, sabar ya neng. Istighfar neng. Sebentar lagi Ibu dan Bapak sedang menuju
kesini.” Bi Anah yang ikut mendampingi panik.
Darah yang banyak mengalir dan
teriakan rasa sakit Mila pecah dalam kebisuan. Tak menunggu lama, langsung
ditangani oleh tim dokter IGD. Mila yang masih ditangani dokter, ayah dan ibu
Mila yang dari luar kota sampai rumah sakit. “Gimana bi Mila ?” tanya ibunya panik. “sedang ditangani dokter tante.” Tiara menenangkan ibunya Mila. “Ya Allah ini ada Tiara? Makasih ya neng.
Sebenarnya kenapa Mila neng ?”. “Tiara belum tahu tante, tahu-tahu keluar darah
dan perut Mila sakit katanya tante”, Tiara coba menjelaskan.
Tak berapa lama, dokter keluar
rauangan pemeriksaan Mila. Dokter menuturkan bahwa Mila harus dikiret karena
mengalami keguguran hamil muda. Sontak kedua orangtua Mila kaget bak disambar
petir disiang bolong. Ibunya meronta. Tak percaya atas apa yang terjadi menimpa
putrinya. Ayahnya marah dan kecewa pada putri semata wayangnya. Ayahnya
mengamuk. Tak kuasa menahan kekecewaan. Disatu sisi, ibunya merasa ada penyesalan,
tersadarkan bahwa Ia lalai dalam mendidik anaknya. Akhirnya keduanya meronta
menangis sejadi-jadinya. Sampai ibu Mila tak sadarkan diri.
*********
Keadaan mulai mencair. Tak sebeku
kemarin. Mila mulai membaik. Kedua orangtua Mila mulai sedikit mau menerima
keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Tiara menceritakan semua yang dialami
Mila kepada kedua orangtuanya. Sampai akhirnya kedua orangtuanya memutuskan
untuk pindah tempat tinggal. Ke tempat asal ibunya di Jogja. Memulai kehidupan
baru, meski harus melupakan sosok laki-laki yang masih Mila harapkan. Ya,
Dimas. Disatu sisi, Ia harus memulai kehidupan baru melupakan episode masa
kelamnya. Dilain sisi, Ia masih berharap kedatangan Dimas agar mau bertanggungjawab
walau buah cinta hasil zinanya itu telah tiada. Walau hanya kata maaf yang
terucap. Namun, tidak demikian. Penantian selama tiga bulan sebelum Ia
berpindah tak kunjung Ia dapatkan. Dimas hilang bak ditelan bumi. Akhirnya, Ia
pun terpaksa harus menyetujui keinginan orangtuanya untuk berpindah tempat
tinggal ke Jogja.
Semenjak itu dan sebelum Mila
berpindah. Tiara tak ingin menjadi sahabat yang gagal untuk kedua kalinya.Tiara
tak henti-hentinya menyemangati Mila. Terus mengingatkannya pada kebaikan dan
ketaatan. Tak ada kata terlambat untuk kembali pada Allah. Masih ada seutas
harapan bagi kita yang sejatinya adalah si pendosa hebat. Masih ada kesempatan,
selagi kita hidup. Kita bersama perbaiki semuanya. Tiara terus menerus memberikan
nasihat dan semangat. Tiara yang semenjak kuliah aktif dikajian, perhalaqohan
dan gerakan dakwah ideologis juga menjelaskan tentang hukuman Islam bagi pelaku
zina. Bahwasannya, Islam memandang zina itu sebagai tindakan kriminal yang
harus dihukumi dengan hukum Islam sesuai dengan Al-qur’an. Dalam (terjemahan
surat An-nur : 2) Tiara terus
menjelaskan :
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduannya seratus kali dera, danjanganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
Setelah mendapatkan penjelasan
detail dari sahabatnya. Mila menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali semua
perbuatannya. Ia ingin tobat secara total.
“Bagaimana caranya aku bisa dicambuk Tiara ? Aku ingin dicambuk! Menebus segala
dosa zinaku di dunia. Aku tak mau, kelak aku dibangkitkan Allah dan aku dihukum
di akhirat karena dosa zinaku”. Mila serius menanyakannya, Ia tak takut
dicambuk. Justru Ia menginginkannya. Karena sekarang Ia meyakini. Bahwa hukum
Islam ketika dilaksanakan di dunia, maka kelak di akhirat Allah tidak akan
menagih lagi dosa zinanya.
Lalu, Tiara kembali menjelaskan
bahwasannya hari ini umat Islam tak bisa melaksanakan hukuman itu. Karena belum
ada sistem penerapan syari’ah Islam secara kaffah ditengah kehidupan di wilayah
manapun. Hukuman Islam yang akan membuat jera tadi, akan bisa dijalankan tatkala
ada satu negara yang menjalankan syari’ah Islam secara sempurna dalam bingkai
khilafah. Bla bla bla, dijelaskannya Tiara kepada Mila secara detail. Hingga
akhirnya, Mila memutuskan untuk berjuang agar hukum Islam bisa diterapkan
secara sempurna. Memilih untuk menjadi seorang pejuang syari’ah dan khilafah.
*********
Setiba di tempat kehidupan
barunya, di Jogja. Tiara sudah menitipkan Mila kepada Mbak Ajeng kakak tingkat
yang sudah lulus sekaligus musryfah / guru ngajinya pada saat di kampus. Bukan
hanya hijrah tempat. Mila juga berazzam hijrah menuju pada jalan Islam. Memilih
jalan ketaatan.
Sampai lima tahun berjalan.
Tsaqofah Islamnya semakin mendalam. Kini, Ia menjadi muslimah yang taat. Ia
hibahkan sisa hidupnya untuk berjual beli dengan Allah di jalan dakwah. Gaya
hidup bebas yang sebelumnya Ia jalani, berubah dengan menjadikan Islam sebagai
poros hidupnya. Hedonis yang sebelumnya menjadi tujuan, kini berubah menjadikan
Allah sebagai satu-satunya tujuan.
Masalah jodoh, sudah lama Ia
harus menguburnya. Pikirnya, siapa yang mau padanya yang sudah tak memiliki
kehormatan. Walau sebetulnya ada rasa menggelayut keinginan untuk memiliki
pasangan hidup. Namun, berkali-kali Ia alihkan perasaan itu. Sampai akhirnya, Ia
ditawari seorang ikhwan sholeh penghafal al qur’an oleh Mbak Ajeng. Awalnya Ia
menolak. Namun, mencoba Mbak Ajeng menjelaskan. Bahwa yang sudah terjadi, jangan
dijadikan momok menakutkan untuk melangkah kedepan. Jadikan itu semua lecutan
untuk kita terus perbaiki diri. Sampai akhirnya, Mila mau tapi dengan
memberikan dua syarat. Syarat pertama, bahwa kepada Mbak Ajeng-lah Mila
menyerahkan sepenuhnya. Ia tak mau melihat cv / biodata ikhwan itu. Jika Mbak
Ajeng setuju, Ia yakin dan percaya bahwa pilihan musryfahnya adalah pilihan
terbaik menurut Allah. Yang kedua, Mbak Ajeng harus menjelaskan kepada ikhwan
tersebut tentang masalalunya. Ia tak mau ada yang disembunyikan darinya. Bahwa Ia
adalah mantan pezina.
Setelah bertukar informasi tanpa
Mila melihat cv-nya. Tanpa Mila ingin mengetahu informasinya. Tak disangka
ternyata ikhwan tersebut memilih melanjutkan proses ke jenjang lebih lanjut. Lalu,
tibalah saatnya, Mila dan ikhwan tersebut saling bertatap muka ditemani dengan
masing-masing mahramnya.
Ahad, hari ke tujuh belas dibulan
ramadhan mereka bertemu di kediaman Mbak Ajeng. Saat ikhwannya datang, hal yang
tak pernah Mila duga. Ternyata ikhwan sholeh penghafal Al- qur’an itu adalah
Dimas. Laki-laki yang dulu tak bertanggungjawab menghamilinya. Kontan Mila
beranjak dari tempat duduknya sambil berderai meninggalkan ruang tamu tempat
mereka bertemu. Mba Ajeng mengejarnya, lalu membujuk dan menjelaskannya. Bahwa
Ia tak tahu jika Dimas adalah masalalunya.
Ditengah gejolak batin Mila yang
hebat dan tangisan yang semakin menderu. Dimas dan suami Mba Ajeng menghampiri
keduanya, “Mila, maafkan aku yang dulu.
Aku lari dari tanggungjawabku. Kamu simpan derita dari kemaksiatan yang kita
perbuat dulu seorang diri”. “Lantas, kau hendak membuka luka lama yang tak
berkesudahan membekas ?”, Mila pecah dalam tangisnya. “Tidak Mila. Aku ingin perbaiki semuanya. Seribu maaf mungkin tak akan
menghilangkan lukamu. Namun, izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu dengan
bersama kita menuju jalan ketaatan pada Allah. Berjuang bersama dalam dakwah.
Mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan. Memperjuangkan syari’ah Allah. Bersama
perbaiki diri. Agar kelak di akhirat Allah tidak menghukumi kita sebagai
seorang pezina. Mila, setelah kejadian itu, aku sadar dan aku terus memperbaiki
diri. Aku mencarimu. Aku tak menemukanmu. Hingga qodoNya, yang menghantarkanku
pada jalan ini dan bertemu denganmu. Allah mengabulkan do’a-do’aku untuk
kembali bertemu denganmu. Mila, kita buka lembaran baru. Maukah kau menjadi ibu
dari anak-anaku ?”
-Sekian - Selasa, 03 April 2018 00.08

Tidak ada komentar:
Posting Komentar