Follow Us @soratemplates

Rabu, 27 Juni 2018

Seutas Harapan Si Pendosa



Helaan nafasnya panjang. Tiara menaruh ponselnya. Tubuhnya lunglai. Hingga Ia tak terasa duduk melemah dibawah. Bersandar pada kursi meja belajar disebelahnya. Diseberang sana, lawan bicaranya masih memanggil-manggil namanya. Tapi, tak dihiraukannya. Kembali Tiara memegang ponsel lalu mematikan panggilan yang masih berjalan. Kembali Ia menghela nafas panjang. Sesak menyeruak terasa. Memejamkam mata. Bibirnya kelu. Kedua tangan menutupi wajahnya. Hingga tak terasa, ada yang mengalir membasahi pipinya. Diusapnya berulang kali, tetap saja masih deras. Mencoba menahan suara segukan. Ia tak bisa. “Ya Allah, aku gagal”, lirihnya. Perasaannya berkecamuk. Ia marah, kesal, kecewa, sedih. Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini Ia menerima pesan singkat. “Semua yang kamu katakan benar Tiara. Maafkan aku yang tak mengindahkan nasihatmu. Aku harus gimana ? Bantu aku Tiara?!”. Diakhiri emotikon menangis.

Tangannya bergetar saat mambaca pesan singkat itu. Kembali air matanya deras mengalir. Ia terbangun dari bawah tempat Ia duduk. Kemudian, setengah membanting merebahkan tubuhnya.  “Ya Allah... Maaf aku gagal menjadi sahabatmu Mil. Maafkan aku ya Allah. Maafkan aku ya Allah”, gumamnya dalam hati. Lalu, tak henti-henti Ia beristrighfar sampai tak terasa Ia terlelap dalam dekapan gelap malam yang pekat.

**********

Sepertiga malam kembali menyapa lembut. Semilir angin menyibak halus dari balik fentilasi jendela kost-kostannya. Seperti ada alarm otomatis dari sinyal tubuhnya. Saat sepertiga malam hadir menyapa, Ia selalu terbangun. Tak menunggu waktu lama. Ia dekap erat sepertiga malamnya. Tak ingin melewatkan waktu saat Allah hadir langsung menyaksikan do’a setiap hambaNya. Ia beserta manusia pilihan lainnya, bertekuk lutut pada Rabb Pencipta Semesta. Memohon pertolongan dalam segala urusan. Meminta petunjuk jalan wahyu dan tetap menggenggam bara hijrah yang Ia temukan pada cahaya Islam.

Selesai qiamul lail, Ia melihat ponselnya. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat dari Mila sabahabat kecilnya. Pesan singkat yang menggoreskan luka pada hatinya. Menganga dan sakit sekali. Merasa dirinya sahabat yang tak berguna. Merasa gagal menjalankan peran sahabat. Merasa manusia yang paling bodoh. Tidak maksimal mengingatkan sahabatnya. Beberapa kali Tiara meyalahkan dirinya sendiri. Merasa menjadi sahabat yang tak berarti. Saat Ia tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Mila. Sudah melakukan seks diluar nikah dengan Dimas yang memacarinya semenjak Mila kuliah. Asstaghfirullah.

Lambaian lembut sepertiga malamnya, kini ia hiasi dengan penuh penyesalan sebagai sahabat yang lalai. Derai air mata seakan sulit diseka. “Allah... Allah... Maafkan aku...

***********

Hari ini adalah UTS terakhir. Tiara berencana setelah selesai UTS, akan meluncur ke kampung halamannya bertemu ayah ibu dan kedua adiknya yang sudah satu semester tak ia kunjungi dan tak sabar Tiara juga akan menemui Mila sahabatnya.

Mila adalah sahabat kecil Tiara. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah mereka selalu bersama. Hanya saja, menginjak perguruan, Tiara mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi negeri favorit di kota besar. Dan Mila harus bisa pasrah berpisah dengan sahabatnya itu dengan berkuliah di kampus negeri kabupaten kota. Orangtuanya yang agnia, sebetulnya bisa saja menyekolahkan Mila ke perguruan tinggi di kota besar. Hanya saja, karena Mila anak satu-satunya, jadi kedua orangtuanya tak merelakan berpisah dengan anaknya jika harus menetap di luar kota. Walaupun sebetulnya, kedua orangtua Mila tak pernah ada di rumah karena sibuk bekerja.

***********

Setelah UTS, Tiara pun memutuskan pulang ke kampung halaman. Sesampainya dirumah. Tiara rehat sejenak lalu memutuskan langsung menuju ke rumah Mila yang tak jauh dari rumahnya.

“Assalamu’alaikum, Mila”. Tiara sambil mengetuk pintu rumah Mila. Tak berapa lama terdengar jawaban salam dari Bi Anah asisten rumahtangga keluarga Mila, “Wa’alaikumsalam. Eh Maa shaa Allah neng Tiara. Kumaha sehat neng ? Neng Tiara atuh meni baru kesini.” “Iya bi. Alhamdulillah sehat. Bi, Mila ada dirumah ?” tanya Tiara. “Neng Mila ada di kamarnya. Udah tiga hari ga mau keluar neng. Wajahnya pucat. Ga mau makan neng. Coba atuh hibur sama neng Tiara. Tanya kenapa?!”, Bi Anah memelas memberitahu kondisi Mila. “Om Tante kemana Bi ?” Tanya Tiara. “Bapak sama Ibu keluar kota neng, udah 4 hari. Ibu sama Bapak udah Bibi SMS. Katanya hari ini pulang.”, Bi Minah bercerita sambil berjalan bersama Tiara menuju kamar Mila. “Bibi ke belakang ya, mau nyuci belum selesai.” Bi Anah meninggalkan Tiara.

“Assalamu’alaikum Mil ? Ini aku”, Tiara mengetuk pintu kamar Mila. “Wa’alaikumsalam, masuk Tiara”, terdengar suara sendu Mila di balik pintu. Dibukanya pintu, dihampirinya Mila dan dipeluknya sahabat kecilnya itu dengan erat. Mila yang pucat sambil segukan menceritakan kegundahannya pada Tiara sahabat kecilnya.

Dimas saat mengetahui Mila telat haidh, langsung tak bisa dihubungi. Ditelpon, SMS, WA, chat sosmed hasilnya nihil. Dimas tak membalas. Hanya diread. Sebelumnya Mila menyambangi ke kost-kostan yang tak jauh dari kampus keduanya juga tak ada hasil. Kata Ibu kost, sudah satu minggu Dimas tak ada di kost-kostan. Menanyakan pada teman kampus pun, mereka tak mengetahui keberadaan Dimas. Entah kemana. Sekalinya ponselnya aktif, tak berapa lama tidak aktif lagi. Mila kehilangan jejak Dimas. Bualan murahan bujuk rayu Dimas sebelumnya yang akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa. Tak Ia tepati. Hingga akhirnya Mila kelelahan mencari Dimas. Mila hancur sehancur-hancurnya. Kehormatannya terenggut. Mahkotanya tak lagi berharga. Mila kalut. Depresi. Menyesali apa yang sudah Ia perbuat. Disatu sisi, sebenarnya Ia tak mau kehilangan Dimas. Bagaimana mungkin melahirkan anak tanpa bapak? Ya, ternyata Mila positif hamil. Asstaghfirullah.

Wajahnya pucat pasi. Tiga hari tak masuk makanan. Tubuhnya melemah. Matanya sembab. Tiara yang juga sebenarnya marah, kesal, sedih menahan kecamuk perasaannya dengan memeluk erat sahabatnya. “Mil, Mila. Kakimu berdarah Mil”, teriak Tiara kaget. “Ya Allah, Ya Allah.Tiara kenapa perutku sakit. Sakit ya Allah sakit. Asstaghfirullah sakit ra...” teriak Mila kesakitan. “Bi Anah .... Bibi.....”

**********

“Tahan ya Mil, tahan.” Tiara membawa Mila menuju IGD rumah sakit. “Neng Mila, sabar ya neng. Istighfar neng. Sebentar lagi Ibu dan Bapak sedang menuju kesini.” Bi Anah yang ikut mendampingi panik.

Darah yang banyak mengalir dan teriakan rasa sakit Mila pecah dalam kebisuan. Tak menunggu lama, langsung ditangani oleh tim dokter IGD. Mila yang masih ditangani dokter, ayah dan ibu Mila yang dari luar kota sampai rumah sakit. “Gimana bi Mila ?” tanya ibunya panik. “sedang ditangani dokter tante.” Tiara menenangkan ibunya Mila. “Ya Allah ini ada Tiara? Makasih ya neng. Sebenarnya kenapa Mila neng ?”. “Tiara belum tahu tante, tahu-tahu keluar darah dan perut Mila sakit katanya tante”, Tiara coba menjelaskan.

Tak berapa lama, dokter keluar rauangan pemeriksaan Mila. Dokter menuturkan bahwa Mila harus dikiret karena mengalami keguguran hamil muda. Sontak kedua orangtua Mila kaget bak disambar petir disiang bolong. Ibunya meronta. Tak percaya atas apa yang terjadi menimpa putrinya. Ayahnya marah dan kecewa pada putri semata wayangnya. Ayahnya mengamuk. Tak kuasa menahan kekecewaan. Disatu sisi, ibunya merasa ada penyesalan, tersadarkan bahwa Ia lalai dalam mendidik anaknya. Akhirnya keduanya meronta menangis sejadi-jadinya. Sampai ibu Mila tak sadarkan diri.

*********

Keadaan mulai mencair. Tak sebeku kemarin. Mila mulai membaik. Kedua orangtua Mila mulai sedikit mau menerima keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Tiara menceritakan semua yang dialami Mila kepada kedua orangtuanya. Sampai akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke tempat asal ibunya di Jogja. Memulai kehidupan baru, meski harus melupakan sosok laki-laki yang masih Mila harapkan. Ya, Dimas. Disatu sisi, Ia harus memulai kehidupan baru melupakan episode masa kelamnya. Dilain sisi, Ia masih berharap kedatangan Dimas agar mau bertanggungjawab walau buah cinta hasil zinanya itu telah tiada. Walau hanya kata maaf yang terucap. Namun, tidak demikian. Penantian selama tiga bulan sebelum Ia berpindah tak kunjung Ia dapatkan. Dimas hilang bak ditelan bumi. Akhirnya, Ia pun terpaksa harus menyetujui keinginan orangtuanya untuk berpindah tempat tinggal ke Jogja.

Semenjak itu dan sebelum Mila berpindah. Tiara tak ingin menjadi sahabat yang gagal untuk kedua kalinya.Tiara tak henti-hentinya menyemangati Mila. Terus mengingatkannya pada kebaikan dan ketaatan. Tak ada kata terlambat untuk kembali pada Allah. Masih ada seutas harapan bagi kita yang sejatinya adalah si pendosa hebat. Masih ada kesempatan, selagi kita hidup. Kita bersama perbaiki semuanya. Tiara terus menerus memberikan nasihat dan semangat. Tiara yang semenjak kuliah aktif dikajian, perhalaqohan dan gerakan dakwah ideologis juga menjelaskan tentang hukuman Islam bagi pelaku zina. Bahwasannya, Islam memandang zina itu sebagai tindakan kriminal yang harus dihukumi dengan hukum Islam sesuai dengan Al-qur’an. Dalam (terjemahan surat  An-nur : 2) Tiara terus menjelaskan :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduannya seratus kali dera, danjanganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Setelah mendapatkan penjelasan detail dari sahabatnya. Mila menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali semua perbuatannya. Ia ingin tobat secara total. “Bagaimana caranya aku bisa dicambuk Tiara ? Aku ingin dicambuk! Menebus segala dosa zinaku di dunia. Aku tak mau, kelak aku dibangkitkan Allah dan aku dihukum di akhirat karena dosa zinaku”. Mila serius menanyakannya, Ia tak takut dicambuk. Justru Ia menginginkannya. Karena sekarang Ia meyakini. Bahwa hukum Islam ketika dilaksanakan di dunia, maka kelak di akhirat Allah tidak akan menagih lagi dosa zinanya.

Lalu, Tiara kembali menjelaskan bahwasannya hari ini umat Islam tak bisa melaksanakan hukuman itu. Karena belum ada sistem penerapan syari’ah Islam secara kaffah ditengah kehidupan di wilayah manapun. Hukuman Islam yang akan membuat jera tadi, akan bisa dijalankan tatkala ada satu negara yang menjalankan syari’ah Islam secara sempurna dalam bingkai khilafah. Bla bla bla, dijelaskannya Tiara kepada Mila secara detail. Hingga akhirnya, Mila memutuskan untuk berjuang agar hukum Islam bisa diterapkan secara sempurna. Memilih untuk menjadi seorang pejuang syari’ah dan khilafah.

*********

Setiba di tempat kehidupan barunya, di Jogja. Tiara sudah menitipkan Mila kepada Mbak Ajeng kakak tingkat yang sudah lulus sekaligus musryfah / guru ngajinya pada saat di kampus. Bukan hanya hijrah tempat. Mila juga berazzam hijrah menuju pada jalan Islam. Memilih jalan ketaatan.

Sampai lima tahun berjalan. Tsaqofah Islamnya semakin mendalam. Kini, Ia menjadi muslimah yang taat. Ia hibahkan sisa hidupnya untuk berjual beli dengan Allah di jalan dakwah. Gaya hidup bebas yang sebelumnya Ia jalani, berubah dengan menjadikan Islam sebagai poros hidupnya. Hedonis yang sebelumnya menjadi tujuan, kini berubah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.

Masalah jodoh, sudah lama Ia harus menguburnya. Pikirnya, siapa yang mau padanya yang sudah tak memiliki kehormatan. Walau sebetulnya ada rasa menggelayut keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Namun, berkali-kali Ia alihkan perasaan itu. Sampai akhirnya, Ia ditawari seorang ikhwan sholeh penghafal al qur’an oleh Mbak Ajeng. Awalnya Ia menolak. Namun, mencoba Mbak Ajeng menjelaskan. Bahwa yang sudah terjadi, jangan dijadikan momok menakutkan untuk melangkah kedepan. Jadikan itu semua lecutan untuk kita terus perbaiki diri. Sampai akhirnya, Mila mau tapi dengan memberikan dua syarat. Syarat pertama, bahwa kepada Mbak Ajeng-lah Mila menyerahkan sepenuhnya. Ia tak mau melihat cv / biodata ikhwan itu. Jika Mbak Ajeng setuju, Ia yakin dan percaya bahwa pilihan musryfahnya adalah pilihan terbaik menurut Allah. Yang kedua, Mbak Ajeng harus menjelaskan kepada ikhwan tersebut tentang masalalunya. Ia tak mau ada yang disembunyikan darinya. Bahwa Ia adalah mantan pezina.

Setelah bertukar informasi tanpa Mila melihat cv-nya. Tanpa Mila ingin mengetahu informasinya. Tak disangka ternyata ikhwan tersebut memilih melanjutkan proses ke jenjang lebih lanjut. Lalu, tibalah saatnya, Mila dan ikhwan tersebut saling bertatap muka ditemani dengan masing-masing mahramnya.

Ahad, hari ke tujuh belas dibulan ramadhan mereka bertemu di kediaman Mbak Ajeng. Saat ikhwannya datang, hal yang tak pernah Mila duga. Ternyata ikhwan sholeh penghafal Al- qur’an itu adalah Dimas. Laki-laki yang dulu tak bertanggungjawab menghamilinya. Kontan Mila beranjak dari tempat duduknya sambil berderai meninggalkan ruang tamu tempat mereka bertemu. Mba Ajeng mengejarnya, lalu membujuk dan menjelaskannya. Bahwa Ia tak tahu jika Dimas adalah masalalunya.

Ditengah gejolak batin Mila yang hebat dan tangisan yang semakin menderu. Dimas dan suami Mba Ajeng menghampiri keduanya, “Mila, maafkan aku yang dulu. Aku lari dari tanggungjawabku. Kamu simpan derita dari kemaksiatan yang kita perbuat dulu seorang diri”. “Lantas, kau hendak membuka luka lama yang tak berkesudahan membekas ?”, Mila pecah dalam tangisnya. “Tidak Mila. Aku ingin perbaiki semuanya. Seribu maaf mungkin tak akan menghilangkan lukamu. Namun, izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu dengan bersama kita menuju jalan ketaatan pada Allah. Berjuang bersama dalam dakwah. Mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan. Memperjuangkan syari’ah Allah. Bersama perbaiki diri. Agar kelak di akhirat Allah tidak menghukumi kita sebagai seorang pezina. Mila, setelah kejadian itu, aku sadar dan aku terus memperbaiki diri. Aku mencarimu. Aku tak menemukanmu. Hingga qodoNya, yang menghantarkanku pada jalan ini dan bertemu denganmu. Allah mengabulkan do’a-do’aku untuk kembali bertemu denganmu. Mila, kita buka lembaran baru. Maukah kau menjadi ibu dari anak-anaku ?”

-Sekian - Selasa, 03 April 2018 00.08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar