Zaman ini tak sulit menemukan kaum LGBT. Semakin hari semakin
bertambah aktivisnya. Dilansir dari (www.karawangtoday.com) data LGBT di tempat
tinggal penulis, di kota Karawang. Sedikitnya 872 orang perilaku menyimpang dari
kalangan pria atau yang biasa disebut gay, terpetakan di Karawang, bahkan 51 diantaranya
merupakan penderita HIV AIDS.
Perilaku seks menyimpang ini juga merupakan penyumbang penderita HIV
AIDS terbesar. Kementerian Sosial mencatat
angka penderita HIV/AIDS (ODHA) yang ada di Indonesia sudah sangat memprihatinkan
yakni lebih dari 276 ribu orang. Data menunjukan “Jumlah ini tercatat di Kemensos
yang terdiri dari 198 ribu orang lebih menderita HIV, dan 78 ribu orang lebih menderita
AIDS. Totalnya mencapai 276 ribu orang di Indonesia menderita atau mengidap HIV/AIDS,”
kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa
di Bekasi (www.kbknews.id).
Di Jawa Barat sendiri masuk ke dalam lima besar populasi pengidap
HIV AIDS se-Indonesia. Perilaku lelaki suka lelaki (LSL) atau gay penyumbang
penderita HIV terbanyak. Dari data yang didapat Dinkes Jabar dari sejumlah
fasilitas kesehatan, jumlah pengidap HIV sejak tahun 1989 hingga 2017 mencapai
37 ribu lebih. Sementara pengidap AIDS mencapai 8.925 orang. (detik.com)
Dalam hal ini, pemerintah tidak boleh tinggal diam atas perilaku amoral
ini. Jika dibiarkan, mau dibawa kemana negeri ini jika tonggak estafet generasinya
mengalami degradasi moral.
Miris memang, tapi inilah fakta. Mereka (kaum LGBT) juga sebenarnya
merasa aktivitas yang dilakukannya abnormal, mengganggu kenyamanan masyarakat,
maka dari itu mereka biasanya membuat komunitas. Komunitas para lesbian,
komunitas para gay, komunitas waria, dan sejenisnya.
Menghindari cemoohan masyarakat,
stigma negatif yang diterimanya, juga pengucilan.
Berawal dari itu, mereka mulai berani unjuk gigi ingin diakui
keberadaannya. Apalagi dengan adanya HAM, mereka mulai merasa mendapat tempat perlindungan.
Makin hari makin eksis dengan banyak menampilkan tokoh, salah satunya seperti Sinon
Loresca si aktor gay dari Filipina, berciri khas pelawak yang sebetulnya sebagai
ikon promosi kaumnya.
Tak ketinggalan, promosi kaum LGBT pun merambah ke kancah dunia
perpolitikan Internasional. Akhir-akhir ini juga kita dikejutkan dengan
tokoh-tokoh pemimpin negara sebagai pelaku LGBT. Perdana Menteri Luxembourg,
Xavier Bettel, menikahi kekasih lamanya Gauthier Destenay yang juga seorang
laki-laki. Johanna Sigurdardottir resmi menikahi kekasihnya yang juga seorang perempuan,
Jonina Leosdottir. Johanna menggelar pernikahan sejenis itu ketika masih
menjabat sebagai Perdana Menteri Islandia (Merdeka.com).
Masifnya Kampanye LGBT
Penggiat LGBT dewasa ini tak hanya sebagai pelaku, tapi mencoba
eksis. Mempromisikan kaumnya, berlindung atas nama HAM, mendapat dukungan dari
dunia internasional, terorganisir, masif. Puncak arah kaum LGBT adalah 'pelegalan
pernikahan sejenis'. Setelah Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis
tahun 2001, hingga menyusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afsel
(2006), Norwegia - Swedia (2009), Portugal - Islandia - Argentina (2010),
Denmark (2012), Brazil - Inggris - Prancis - Selandia Baru - Uruguay (2013),
Skotlandia (2014), Luxemburg - Finlandia - Slovenia - Irlandia - Meksiko
(2015), Amerika Serikat (2015), Taiwan dan terakhir Australia. Hingga akhirnya sekarang mereka pun hendak
merambah ke negeri-negeri Muslim, termasuk saat ini begitu masifnya masuk ke Indonesia.
Nampak jelas LGBT adalah agenda besar Barat untuk menghancurkan kaum
muslimin. Kapitalisme dengan sekularismenya (memisahkan agama dari kehidupan)
jelas mengusung gaya hidup hedonis dan liberal. Bebas berperilaku apapun, asal
suka sama suka aktivitas LGBT di mata kapitalisme adalah halal. Sistem liberal yang
diusung kapitalisme demokrasi mengikis rasa empati sesama. Melahirkan manusia-manusia
individualisme. Apatis atas yang terjadi dalam masyarakat. Tak ayal LGBT semakin
merebak dan akan terus meningkat.
Tak habis pikir dengan mereka para pendukung LGBT. Terlihat ada
narasi yang dipaksakan oleh para penggiatnya. Sadar LGBT tidak sesuai fitrah,
namun tetap dicari alasan pembenaran aktivitasnya. Bahkan acara ILC kemarin di
tvone membahas putusan Mahkamah Konstitusi terkait LGBT yang menuai pro kontra
juga masih ramai diperbincangkan sampai ada salah satu narasumber pro LGBT
mengutip Ayat Al Qur'an surat An-Nur ayat 31 sebagai pembenaran aktivitas LGBT,
seperti seolah Allah swt. ridho dengannya. Naudzubillah.
Pernyataan-pernyataan tak berdasar oleh para pendukung LGBT,
menyiratkan satu makna yakni kualitas pemikiran yang bobrok, tidak masuk akal
alias dipaksakan. Bagaimana tidak ? Memelintir tafsir Al-Qur'an dan meniadakan
Sang Pencipta sekaligus sebagai Pengatur. Inilah sekularisme, memisahkan agama
dari kehidupan.
Media Barat juga secara agresif mengekspose komunitas LGBT di tengah
masyarakat Muslim. BBC, majalah TIME dan the Huffington Post selama bulan Ramadhan lalu mengopinikan komunitas
pesantren waria di Yogyakarta - Indonesia bahwa keberadaan mereka seolah-olah telah
diterima secara luas oleh masyarakat Muslim. Mereka terus memproduksi narasi
bahwa Islam 'membenarkan' praktek LGBT dan masyarakat Muslim pun bisa menerima
eksistensi kaum sodom ini.
Solusi Tuntas Memberangus LGBT
Masifnya penyebaran prilaku seks menyimpang ini (LGBT) akan semakin
terus meningkat, mengingat penguasa saat ini justru malah berada diposisi
sebagai pendukung. Tujuan Barat di Negeri mayoritas penduduk muslim terbesar seolah
sedang bersorak sorai. Lagi umat dihadapkan dengan fakta yang semakin membuat perih
tak terkira.
Tulisan ini tayang di voa-islam, selengkapnya silakan buka link :
http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2017/12/23/55028/kemana-arah-narasi-lgbt/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar