Follow Us @soratemplates

Rabu, 27 Juni 2018

Sepenggal Kisah Memoriku

Juni 27, 2018 8 Comments



//Sepenggal Kisah Memoriku//
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Laa Ilaha Illallah...

Suara syahdu memecah kekhusuan dipenghujung malam.  Tak ada hiruk pikuk. Suasana masih sunyi senyap. Hanya yang terdengar panggilan cintaNya yang menyapa semesta. Pertanda waktunya manusia tuk membisik do'a pada bumi. Bersujud pada Rabb pencipta alam, saat sebelum hadirnya sang fajar.

Ada yang tak biasa dipembuka awal pada hari itu, yang biasanya aku hanya membawa buku pelajaran sesuai jadwal, tapi hari itu aku juga membawa 2 baju ganti. Karena semalam aku menerima pesan singkat dari sahabatku Nana yang terbaring di rumah sakit. Perutnya tak mau menerima ajakan rasa lapar, akhirnya makanan yang masuk, keluar lagi. Lantaran maag akutnya kambuh.  Jadilah kali ini dia harus kembali bersahabat dengan jarum infus dan harus menelan banyak butiran pil.  Pikirku, ah dasar kau pasti telat makan! Jadilah begini.

Kantong izin menginap sudah kudapat dari orangtuaku. Yes, aku bisa temani sahabatku yang sedang Allah uji dengan sakitnya. Waktu itu hari sabtu, jadi malam mingguku kuhabiskan bersamanya. Ya, di rumah sakit.

=======================

Suasana seisi kelas mulai gusar. Melihat ada kelas sebelah satu per satu mulai berhamburan. Nampaknya jam terakhir mereka bebas. Kami yang tak bebas, menunggu beberapa menit lagi menuju jam bebas merdeka. Beberapa diantara kami ada yang melirik pada jam yang menempel dilengannya. Akhirnya, pas jam 15.15 dering bel tiga kali pun terdengar. Pertanda waktunya seisi kelas berhamburan keluar.

"Ra, jadi ke RS ?", tanya Midah teman sebangku. "Iya, eh aku jadi nebeng yah". "Siap". Midah sambil beranjak dari bangkunya.

Scooter matic keren pada zamannya, melaju membelah kota padi yang hari ini mulai tergerus oleh perusahan-perusahan asing yang bertengger megah di tanah agrari ini. Pemandangan hijau sudah jarang ditemukan berganti dengan deretan mall, perumahan,  pusat perbelanjaan modern dan hotel menjadi penghias pembatas jalan. Duhai tanah kelahiranku. Kota Karawang, Kota Padi, Kota Pangkal Perjuangan.

========================

"Assalamu'alaikum", kubuka pintu kamar nomor 104 ruangan Cilamaya kelas II. Aku tak melihat ada sahabatku, hanya ada seorang ibu berkerudung jingga yang tersenyum padaku. "Cari siapa neng?", ibu itu bertanya. Tak lama ibunya Nana keluar dibalik gorden,  "Eh Dhira, ayo sini!  Nana disini". Aku hanya membalas sapaan ibu berkerudung jingga itu dengan senyuman.

Nampaknya Nana sudah agak mulai baikan. Tak ada ekspresi wajah kesakitan. Hanya saja masih terlihat pucat dan lemas. Sampai menjelang tidur, aku dan Nana masih melanjutkan bercerita kesana kemari tentang keseruan apa yang sudah pernah kami lakukan. Kami bersahabat dari kecil. Jadi, sudah banyak episode yang kami lalui bersama. Bersyukur, masih bisa melihat keadaannya dan menghiburnya disaat dia kepayahan menghadapi ujian sakitnya.

=========================

Esok harinya, aku melihat pasien sebelah tempat tidur Nana yang hanya dibatasi dengan kain gorden. Kebetulan kain gorden pembatas itu dibuka. Dia yang sedang duduk diranjang sambil mengoyang-goyangkan kaki seraya jarum infus yang masih menempel. "Na, dia sakit apa ?" tanyaku penasaran. "Anemia sama hepatitis katanya ra" jawab Nana. Aku, "oh, dia anak SD kelas 5 kayaknya ya? Kasian ya? ". "Bukan Dhira, dia seumuran kita tahu". Hah aku yang tak percaya melihat pasien sebelah yang terlihat seperti anak SD ternyata seumuranku, gadis SMA 16 tahun. Ya Allah kok bisa ya pikirku.  


Tak terasa, kembali panggilan cintaNya hadir menyapa. Hangatnya mentari persis di atas bumi mulai membisikan bahwa saatnya manusia kembali untuk bersujud, bertekuk lutut padaNya. Memohon ampun dan meminta kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kugelar sajadah di pojok kamar ruangan Cilamaya nomor 104.

Selesai salam. Ternyata ada yang memperhatikanku dari kejauhan. Dia tersenyum lebar padaku. Senyuman itu mengguratkan kerutan disamping mata kanan dan kirinya. Seperti pertanda senyum kerinduan. Tangan kirinya, nampak sudah akrab sekali dengan jarum infus. Kali ini dia duduk di kursi di samping ranjangnya,  lagi-lagi sambil mengayun-ayunkan pelan kedua kakinya kedepan kebelakang. Dia tak banyak bicara, tingkahnya persis anak SD kelas 5.



Selesai merapikan sajadah dan mukena kuhampiri dia. Kutanya namanya siapa, kudekati lalu kupegang tangannya. Dia hanya meresponku dengan senyuman. "Namanya Ika neng." seorang ibu dari belakangku menjawab. Nampaknya ibu berkerudung jingga yang kemarin itu adalah ibunya Ika. "Oh Ika ya. Ika kenapa? Ika mau shalat? " dia masih tak merespon, kembali hanya melempar senyuman. "Ika mau shalat ? " tanyaku lagi. Kali ini aku terhenyak, seolah ada desir halus yang menyergap. Entah yang kurasakan saat itu saat mendengar yang Ika ucapkan. "Awoh" sambil menepuk beberapa kali dadanya. Spontan aku bertanya kembali,  "Ika kangen Awoh? ". Kali ini dia tak menempali, hanya yang terlihat guratan dikedua samping matanya, bibirnya tersungging melebar, kembali ia hanya melempar senyuman. Lirihku, ya Allah. Mungkin Awoh yang Ika maksud adalah Allah. Atau Awoh adalah shalat. Entahlah, dia tak begitu jelas mengatakannya. Pantas saja ia tak banyak bicara, untuk bicara saja ia merasa kesulitan, seperti anak usia dini yang sedang belajar bicara. Aku menahan sesak. Menyeruak di dada. Tak terasa kontan pelupuk mataku berkaca. Namun sebisa mungkin kutahan agar tak jatuh di pipi.

Ibunya menghampiri kami, kemudian beliau bercerita keadaan Ika. Awalnya Ika mengeluh sakit perut karena maag. Sakitnya berlanjut sampai dia pernah tak bisa berjalan selama hampir satu bulan. Berbagai obat sampai terapi apapun sudah diikhtiari kedua orangtua Ika. Sampai akhirnya sekarang di sini sudah 10 hari. Sebelumnya juga sudah akrab sekali dengan bau khas rumah sakit. HB yang sangat rendah mengharuskan ia transfusi. Pernah sampai transfusi 2 kantong darah dimasukan kedalam tubuhnya tak sampai berapa lama habis. Ibunya meneruskan jika sekarang juga sedang menunggu rujukan untuk pindah ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, katanya rumah sakit di sini tak cukup alat untuk menangani penyakit yang diderita Ika. Aku sempat memotret papan diagnosanya Ika. Tapi sepertinya terhapus dimemori HP lamaku. Entah jelasnya Ika menderita penyakit apa. Yang jelas rambutnya Ika sudah mulai rontok banyak.

Ibunya Ika selalu tersenyum kala melihatku. Rupanya mungkin beliau berharap Ika bisa sembuh seperti sedia kala. Seperti aku. Bisa beraktivitas biasa. Bisa bersekolah menggapai apa yang menjadi tujuan. Menjadi kebanggaan orangtua dan keluarga. Karena sakit yang lama, mengharuskan Ika terhenti tak melanjutkan bangku sekolah di kelas 2 SMA. Beliau bercerita, sebelum sakit Ika itu seperti anak biasa. "Sama seperti neng Dhira". Kata beliau sambil memperlihatkan foto cantik anaknya memakai kerudung ungu.



============================

Perasaanku berkecamuk, helaan nafasku terasa ada yang menghimpit. Sesak. Kaki kuberjalan tidak seperti biasa. Rasanya berjalan di koridor rumah sakit seperti tak menemui ujung jalan. Langkah kakiku lamban mengikuti benak yang sedang mengajakku bicara.

Ya Allah, rasanya tak ada alasan untukku tak mensyukuri semuanya. Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān (Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?). Nikmat sehat sering kuabaikan juga nikmat waktu luang yang kugunakan untuk suatu hal yang tak bermanfaat. Maafkan aku Ya Allah. Maafkan aku yang hina dina. Maafkan diusia mudaku kujalani dengan penuh penyesalan dikemudian. Aku yang waktu itu baru belajar menutup aurat dengan jibab dan khimar. Semakin tumbuhkan keyakinan inilah petunjukMu yang benar. Terimakasih Ika kau mengajarkanku akan setiap detik adalah hal berharga. Lahaula wala quwata illabillah. Mudahkan niat hijrahku ya Allah.

Terimakasih ya Allah, Kau telah pertemukanku dengan gadis manis yang kuat. Menerima qodoMu dengan penuh keikhlasan. Tak kulihat keluhan diwajahnya. Juga ibunya yang ikhlas menerima setiap qodo dariMu melalui anaknya. Aku banyak belajar dari mereka.

Masih di koridor rumah sakit dalam perjalanan menuju pulang batinku berguman. Suatu saat aku akan menuliskan sepenggal kisah ini saat bersamamu. Semoga kelak aku bisa kembali melihatmu dalam keadaan sehat. Bersama Nana kita kan menjadi sahabat. Menggenggam bara hijrah.

Ah rasanya sulit dipercaya. Azzamku 7 tahun yang lalu baru aku penuhi hari ini. Di pojok ruangan semediku di atas meja belajar anakku aku menuliskan kisahku saat bersamamu juga bersama Nana pada hari itu. Harapku tuk bisa melihatmu kembali, tuk kita bisa merajut ukhuwah, tuk bisa saling bercerita keluarga masing-masing, ternyata Allah tangguhkan. Karena 2 bulan setelah kepulangan Nana dari rumah sakit aku mendapat kabar duka bahwa kau telah berpulang. Ika, semoga kau husnul khotimah, semoga kau husnul khotimah. Aku masih berharap tuk bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa dipertemukan Allah pada jannahNya. Aamiin Ya Rabb.

Waspada ! Tiga Virus Ini Menghantui Remaja

Juni 27, 2018 0 Comments
Generasi Z. Begitu label yang melekat pada remaja zaman now. Menampilkan wajah kekinian. Doyan berseliweran di lini masa. Eksis. Mengekspose beragam tingkah polah.

Melihat kelakuan generasi micin (istilah serupa generasi Z) bikin geleng-geleng kepala. Remaja yang seharusnya menjadi tonggak estafet peradaban. Ini terlena dengan gaya hidup mengkiblat pada style ala Barat.

Pergaulan tak berbatas. Remaja bablas. Terjerumus pada free sex. Narkoba dan mabok minuman dianggap hal wajar. Tawuran sudah biasa. Dengan dalih mumpung masih muda. Kampanye-kampanye murahan seperti  v-day jadi sasaran empuk menggempur pemikiran para remaja. Agar jauh dari identitas mereka sebagai seorang hamba. Survei Angka penyimpangan perilaku pada remaja zaman now juga bikin puyeng kepala.

Kita mesti tahu. Kenapa generasi Z bisa seperti itu. Jawabannya tak lain dan tak bukan karena mereka terkena serangan virus dahsyat dan masif. Virus yang membahayakan jika dibiarkan akan terus menggerogoti tubuh umat dan peradaban.

  1. Hedonisme


Remaja yang terkena virus ini, dia ngga mau memikirkan yang pusing pusing. Maunya yang happy happy saja. Soal pelajaran sekolah pun ogah buat dipikirin apalagi dikerjain. Senangnya pergi clubbing atau nongkrong sampai larut. Biasanya doyan shoping. Yang penting happy setiap saat.

Tulisan ini tayang di media remaja. Selengkapnya silakan buka link :

http://www.soeara-peladjar.com/2018/02/waspada-tiga-virus-ini-menghantui-remaja.html

Merindui Taman-taman Surga

Juni 27, 2018 0 Comments
Pernahkah bertanya seberapa indah surga ? Membayangkannya saja hati ini takjub. Berbinar penuh harap. Merindu pada waktu. Dambaan semua insan.

Surga adalah tempat terindah dengan segala kenikmatan. Segala gemerlap dunia hanya setetes dibandingkan dengan pesona keindahan surga. Diciptakan-Nya untuk manusia yang taqwa.


Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata.

Mereka bersandar diatasnya berhadap-hadapan,

Mereka dikelilingi oleh anak muda yang tetap muda,

dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air mengalir,

Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,

dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih,

dan daging burung apa pun yang mereka inginkan,

Ada bidadari-bidadari yang bermata indah,

Laksana mutiara tersimpan baik.

Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. (TQS. Al-Waqi'ah : 15-24)

Memejamkan mata merenungi firmanNya, amatlah rindu akan hari itu. Pesona surga begitu menawan. FirmanNya jualah kabar bagi insan yang iman. Akhirat kampung halaman abadi nan hakiki.

Aroma harum surga telah dikabarkan RasulNya, dapat dicium sejauh-jauhnya. Jika saja surga yang dirindukan amatlah panjang perjalanan, terjal dan berliku. Namun sebetulnya keindahan taman-taman surga dunia bisa kita rengkuh saat ini.

Indahnya Taman Surga Dunia

"Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah. Mereka bertanya, ”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, "Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi).
Iya itulah taman-taman surga. Taman surga yang RasulNya kabarkan. Adalah memenuhi undangan untuk kita hadir di majelis-majelis ilmu, dihalaqoh-halaqoh, berkumpul dengan para pengharap ridhoNya, menuntut ilmu, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya." (Riwayat Muslim).
Ma shaa Allah. Nikmatnya taman-taman surga itu. Tanpa kita tahu ternyata Allah memberikan empat kenikmatan jika kita duduk di taman-taman surgaNya.

Yang pertama kita akan mendapatkan ketenangan hati. Kemudian rahmat Allah akan mengalir. Dan siapa yang tak inginkan do'a dari para penduduk langit (malaikat) ? Do'a yang tak pernah Allah tolak. Malaikat akan mendo'akan yang baik-baik jika kita duduk di majelis ilmu. Juga pujian siapa lagi selain pujian tertinggi yang didapat manusia selain pujian dari Allah ? Ma shaa Allah.
Jika kita amat merindu surga. Maka seharusnya kita lebih rindu akan taman surga yang bisa kita penuhi hari ini. Sebelum kita diminta kembali oleh-Nya ke kampung halaman azali.

Tapi sayang, masih banyak manusia yang sibuk dengan urusan dunianya. Hingga merasa tak ada waktu untuk hadir duduk menikmati taman surga. Masih banyak yang merasa sibuk dengan perniagaan, pekerjaan, urusan rumah tangga, urusan anak, dan sederet alasan lainnya. Padahal, jika sejengkal saja kita mendekati Allah, maka Dia akan melangkah pada kita. Jika saja kita melangkah mendekati Allah, maka Dia akan berlari menghampiri kita. Artinya, dengan niat sungguh-sungguh dan mengupayakan maksimal untuk hadir duduk di majelis ilmu, niscaya Allah akan memudahkan segalanya.

Para Perindu Surga

Duhai muslimah yang selalu tertaut hatinya pada pencipta semesta. Segala aktivitas harian kita janganlah jadikan rantai gajah yang lantas dijadikan alasan untuk kita tidak menghadiri undangan RasulNya. Duduk bersama bidadari-bidadari dunia yang mengejar cinta-Nya di majelis-majelis ilmu.
Kita yang butuh ilmu. Bukan ilmu yang membutuhkan kita. Ilmu Allah itu luas. Luas sekali. Di taman-taman surga-Nya lah kita bisa mendapatkan ilmu. Lalu kita amalkan sebagai kelak bekal dikehidupan yang abadi.



Tulisan ini tayang di solihat,net. Selengkapnya silakan buka link :

http://sholihah.net/2018/01/20/merindui-taman-taman-surga/

Seutas Harapan Si Pendosa

Juni 27, 2018 0 Comments


Helaan nafasnya panjang. Tiara menaruh ponselnya. Tubuhnya lunglai. Hingga Ia tak terasa duduk melemah dibawah. Bersandar pada kursi meja belajar disebelahnya. Diseberang sana, lawan bicaranya masih memanggil-manggil namanya. Tapi, tak dihiraukannya. Kembali Tiara memegang ponsel lalu mematikan panggilan yang masih berjalan. Kembali Ia menghela nafas panjang. Sesak menyeruak terasa. Memejamkam mata. Bibirnya kelu. Kedua tangan menutupi wajahnya. Hingga tak terasa, ada yang mengalir membasahi pipinya. Diusapnya berulang kali, tetap saja masih deras. Mencoba menahan suara segukan. Ia tak bisa. “Ya Allah, aku gagal”, lirihnya. Perasaannya berkecamuk. Ia marah, kesal, kecewa, sedih. Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini Ia menerima pesan singkat. “Semua yang kamu katakan benar Tiara. Maafkan aku yang tak mengindahkan nasihatmu. Aku harus gimana ? Bantu aku Tiara?!”. Diakhiri emotikon menangis.

Tangannya bergetar saat mambaca pesan singkat itu. Kembali air matanya deras mengalir. Ia terbangun dari bawah tempat Ia duduk. Kemudian, setengah membanting merebahkan tubuhnya.  “Ya Allah... Maaf aku gagal menjadi sahabatmu Mil. Maafkan aku ya Allah. Maafkan aku ya Allah”, gumamnya dalam hati. Lalu, tak henti-henti Ia beristrighfar sampai tak terasa Ia terlelap dalam dekapan gelap malam yang pekat.

**********

Sepertiga malam kembali menyapa lembut. Semilir angin menyibak halus dari balik fentilasi jendela kost-kostannya. Seperti ada alarm otomatis dari sinyal tubuhnya. Saat sepertiga malam hadir menyapa, Ia selalu terbangun. Tak menunggu waktu lama. Ia dekap erat sepertiga malamnya. Tak ingin melewatkan waktu saat Allah hadir langsung menyaksikan do’a setiap hambaNya. Ia beserta manusia pilihan lainnya, bertekuk lutut pada Rabb Pencipta Semesta. Memohon pertolongan dalam segala urusan. Meminta petunjuk jalan wahyu dan tetap menggenggam bara hijrah yang Ia temukan pada cahaya Islam.

Selesai qiamul lail, Ia melihat ponselnya. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat dari Mila sabahabat kecilnya. Pesan singkat yang menggoreskan luka pada hatinya. Menganga dan sakit sekali. Merasa dirinya sahabat yang tak berguna. Merasa gagal menjalankan peran sahabat. Merasa manusia yang paling bodoh. Tidak maksimal mengingatkan sahabatnya. Beberapa kali Tiara meyalahkan dirinya sendiri. Merasa menjadi sahabat yang tak berarti. Saat Ia tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Mila. Sudah melakukan seks diluar nikah dengan Dimas yang memacarinya semenjak Mila kuliah. Asstaghfirullah.

Lambaian lembut sepertiga malamnya, kini ia hiasi dengan penuh penyesalan sebagai sahabat yang lalai. Derai air mata seakan sulit diseka. “Allah... Allah... Maafkan aku...

***********

Hari ini adalah UTS terakhir. Tiara berencana setelah selesai UTS, akan meluncur ke kampung halamannya bertemu ayah ibu dan kedua adiknya yang sudah satu semester tak ia kunjungi dan tak sabar Tiara juga akan menemui Mila sahabatnya.

Mila adalah sahabat kecil Tiara. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah mereka selalu bersama. Hanya saja, menginjak perguruan, Tiara mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi negeri favorit di kota besar. Dan Mila harus bisa pasrah berpisah dengan sahabatnya itu dengan berkuliah di kampus negeri kabupaten kota. Orangtuanya yang agnia, sebetulnya bisa saja menyekolahkan Mila ke perguruan tinggi di kota besar. Hanya saja, karena Mila anak satu-satunya, jadi kedua orangtuanya tak merelakan berpisah dengan anaknya jika harus menetap di luar kota. Walaupun sebetulnya, kedua orangtua Mila tak pernah ada di rumah karena sibuk bekerja.

***********

Setelah UTS, Tiara pun memutuskan pulang ke kampung halaman. Sesampainya dirumah. Tiara rehat sejenak lalu memutuskan langsung menuju ke rumah Mila yang tak jauh dari rumahnya.

“Assalamu’alaikum, Mila”. Tiara sambil mengetuk pintu rumah Mila. Tak berapa lama terdengar jawaban salam dari Bi Anah asisten rumahtangga keluarga Mila, “Wa’alaikumsalam. Eh Maa shaa Allah neng Tiara. Kumaha sehat neng ? Neng Tiara atuh meni baru kesini.” “Iya bi. Alhamdulillah sehat. Bi, Mila ada dirumah ?” tanya Tiara. “Neng Mila ada di kamarnya. Udah tiga hari ga mau keluar neng. Wajahnya pucat. Ga mau makan neng. Coba atuh hibur sama neng Tiara. Tanya kenapa?!”, Bi Anah memelas memberitahu kondisi Mila. “Om Tante kemana Bi ?” Tanya Tiara. “Bapak sama Ibu keluar kota neng, udah 4 hari. Ibu sama Bapak udah Bibi SMS. Katanya hari ini pulang.”, Bi Minah bercerita sambil berjalan bersama Tiara menuju kamar Mila. “Bibi ke belakang ya, mau nyuci belum selesai.” Bi Anah meninggalkan Tiara.

“Assalamu’alaikum Mil ? Ini aku”, Tiara mengetuk pintu kamar Mila. “Wa’alaikumsalam, masuk Tiara”, terdengar suara sendu Mila di balik pintu. Dibukanya pintu, dihampirinya Mila dan dipeluknya sahabat kecilnya itu dengan erat. Mila yang pucat sambil segukan menceritakan kegundahannya pada Tiara sahabat kecilnya.

Dimas saat mengetahui Mila telat haidh, langsung tak bisa dihubungi. Ditelpon, SMS, WA, chat sosmed hasilnya nihil. Dimas tak membalas. Hanya diread. Sebelumnya Mila menyambangi ke kost-kostan yang tak jauh dari kampus keduanya juga tak ada hasil. Kata Ibu kost, sudah satu minggu Dimas tak ada di kost-kostan. Menanyakan pada teman kampus pun, mereka tak mengetahui keberadaan Dimas. Entah kemana. Sekalinya ponselnya aktif, tak berapa lama tidak aktif lagi. Mila kehilangan jejak Dimas. Bualan murahan bujuk rayu Dimas sebelumnya yang akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa. Tak Ia tepati. Hingga akhirnya Mila kelelahan mencari Dimas. Mila hancur sehancur-hancurnya. Kehormatannya terenggut. Mahkotanya tak lagi berharga. Mila kalut. Depresi. Menyesali apa yang sudah Ia perbuat. Disatu sisi, sebenarnya Ia tak mau kehilangan Dimas. Bagaimana mungkin melahirkan anak tanpa bapak? Ya, ternyata Mila positif hamil. Asstaghfirullah.

Wajahnya pucat pasi. Tiga hari tak masuk makanan. Tubuhnya melemah. Matanya sembab. Tiara yang juga sebenarnya marah, kesal, sedih menahan kecamuk perasaannya dengan memeluk erat sahabatnya. “Mil, Mila. Kakimu berdarah Mil”, teriak Tiara kaget. “Ya Allah, Ya Allah.Tiara kenapa perutku sakit. Sakit ya Allah sakit. Asstaghfirullah sakit ra...” teriak Mila kesakitan. “Bi Anah .... Bibi.....”

**********

“Tahan ya Mil, tahan.” Tiara membawa Mila menuju IGD rumah sakit. “Neng Mila, sabar ya neng. Istighfar neng. Sebentar lagi Ibu dan Bapak sedang menuju kesini.” Bi Anah yang ikut mendampingi panik.

Darah yang banyak mengalir dan teriakan rasa sakit Mila pecah dalam kebisuan. Tak menunggu lama, langsung ditangani oleh tim dokter IGD. Mila yang masih ditangani dokter, ayah dan ibu Mila yang dari luar kota sampai rumah sakit. “Gimana bi Mila ?” tanya ibunya panik. “sedang ditangani dokter tante.” Tiara menenangkan ibunya Mila. “Ya Allah ini ada Tiara? Makasih ya neng. Sebenarnya kenapa Mila neng ?”. “Tiara belum tahu tante, tahu-tahu keluar darah dan perut Mila sakit katanya tante”, Tiara coba menjelaskan.

Tak berapa lama, dokter keluar rauangan pemeriksaan Mila. Dokter menuturkan bahwa Mila harus dikiret karena mengalami keguguran hamil muda. Sontak kedua orangtua Mila kaget bak disambar petir disiang bolong. Ibunya meronta. Tak percaya atas apa yang terjadi menimpa putrinya. Ayahnya marah dan kecewa pada putri semata wayangnya. Ayahnya mengamuk. Tak kuasa menahan kekecewaan. Disatu sisi, ibunya merasa ada penyesalan, tersadarkan bahwa Ia lalai dalam mendidik anaknya. Akhirnya keduanya meronta menangis sejadi-jadinya. Sampai ibu Mila tak sadarkan diri.

*********

Keadaan mulai mencair. Tak sebeku kemarin. Mila mulai membaik. Kedua orangtua Mila mulai sedikit mau menerima keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Tiara menceritakan semua yang dialami Mila kepada kedua orangtuanya. Sampai akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke tempat asal ibunya di Jogja. Memulai kehidupan baru, meski harus melupakan sosok laki-laki yang masih Mila harapkan. Ya, Dimas. Disatu sisi, Ia harus memulai kehidupan baru melupakan episode masa kelamnya. Dilain sisi, Ia masih berharap kedatangan Dimas agar mau bertanggungjawab walau buah cinta hasil zinanya itu telah tiada. Walau hanya kata maaf yang terucap. Namun, tidak demikian. Penantian selama tiga bulan sebelum Ia berpindah tak kunjung Ia dapatkan. Dimas hilang bak ditelan bumi. Akhirnya, Ia pun terpaksa harus menyetujui keinginan orangtuanya untuk berpindah tempat tinggal ke Jogja.

Semenjak itu dan sebelum Mila berpindah. Tiara tak ingin menjadi sahabat yang gagal untuk kedua kalinya.Tiara tak henti-hentinya menyemangati Mila. Terus mengingatkannya pada kebaikan dan ketaatan. Tak ada kata terlambat untuk kembali pada Allah. Masih ada seutas harapan bagi kita yang sejatinya adalah si pendosa hebat. Masih ada kesempatan, selagi kita hidup. Kita bersama perbaiki semuanya. Tiara terus menerus memberikan nasihat dan semangat. Tiara yang semenjak kuliah aktif dikajian, perhalaqohan dan gerakan dakwah ideologis juga menjelaskan tentang hukuman Islam bagi pelaku zina. Bahwasannya, Islam memandang zina itu sebagai tindakan kriminal yang harus dihukumi dengan hukum Islam sesuai dengan Al-qur’an. Dalam (terjemahan surat  An-nur : 2) Tiara terus menjelaskan :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduannya seratus kali dera, danjanganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Setelah mendapatkan penjelasan detail dari sahabatnya. Mila menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali semua perbuatannya. Ia ingin tobat secara total. “Bagaimana caranya aku bisa dicambuk Tiara ? Aku ingin dicambuk! Menebus segala dosa zinaku di dunia. Aku tak mau, kelak aku dibangkitkan Allah dan aku dihukum di akhirat karena dosa zinaku”. Mila serius menanyakannya, Ia tak takut dicambuk. Justru Ia menginginkannya. Karena sekarang Ia meyakini. Bahwa hukum Islam ketika dilaksanakan di dunia, maka kelak di akhirat Allah tidak akan menagih lagi dosa zinanya.

Lalu, Tiara kembali menjelaskan bahwasannya hari ini umat Islam tak bisa melaksanakan hukuman itu. Karena belum ada sistem penerapan syari’ah Islam secara kaffah ditengah kehidupan di wilayah manapun. Hukuman Islam yang akan membuat jera tadi, akan bisa dijalankan tatkala ada satu negara yang menjalankan syari’ah Islam secara sempurna dalam bingkai khilafah. Bla bla bla, dijelaskannya Tiara kepada Mila secara detail. Hingga akhirnya, Mila memutuskan untuk berjuang agar hukum Islam bisa diterapkan secara sempurna. Memilih untuk menjadi seorang pejuang syari’ah dan khilafah.

*********

Setiba di tempat kehidupan barunya, di Jogja. Tiara sudah menitipkan Mila kepada Mbak Ajeng kakak tingkat yang sudah lulus sekaligus musryfah / guru ngajinya pada saat di kampus. Bukan hanya hijrah tempat. Mila juga berazzam hijrah menuju pada jalan Islam. Memilih jalan ketaatan.

Sampai lima tahun berjalan. Tsaqofah Islamnya semakin mendalam. Kini, Ia menjadi muslimah yang taat. Ia hibahkan sisa hidupnya untuk berjual beli dengan Allah di jalan dakwah. Gaya hidup bebas yang sebelumnya Ia jalani, berubah dengan menjadikan Islam sebagai poros hidupnya. Hedonis yang sebelumnya menjadi tujuan, kini berubah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.

Masalah jodoh, sudah lama Ia harus menguburnya. Pikirnya, siapa yang mau padanya yang sudah tak memiliki kehormatan. Walau sebetulnya ada rasa menggelayut keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Namun, berkali-kali Ia alihkan perasaan itu. Sampai akhirnya, Ia ditawari seorang ikhwan sholeh penghafal al qur’an oleh Mbak Ajeng. Awalnya Ia menolak. Namun, mencoba Mbak Ajeng menjelaskan. Bahwa yang sudah terjadi, jangan dijadikan momok menakutkan untuk melangkah kedepan. Jadikan itu semua lecutan untuk kita terus perbaiki diri. Sampai akhirnya, Mila mau tapi dengan memberikan dua syarat. Syarat pertama, bahwa kepada Mbak Ajeng-lah Mila menyerahkan sepenuhnya. Ia tak mau melihat cv / biodata ikhwan itu. Jika Mbak Ajeng setuju, Ia yakin dan percaya bahwa pilihan musryfahnya adalah pilihan terbaik menurut Allah. Yang kedua, Mbak Ajeng harus menjelaskan kepada ikhwan tersebut tentang masalalunya. Ia tak mau ada yang disembunyikan darinya. Bahwa Ia adalah mantan pezina.

Setelah bertukar informasi tanpa Mila melihat cv-nya. Tanpa Mila ingin mengetahu informasinya. Tak disangka ternyata ikhwan tersebut memilih melanjutkan proses ke jenjang lebih lanjut. Lalu, tibalah saatnya, Mila dan ikhwan tersebut saling bertatap muka ditemani dengan masing-masing mahramnya.

Ahad, hari ke tujuh belas dibulan ramadhan mereka bertemu di kediaman Mbak Ajeng. Saat ikhwannya datang, hal yang tak pernah Mila duga. Ternyata ikhwan sholeh penghafal Al- qur’an itu adalah Dimas. Laki-laki yang dulu tak bertanggungjawab menghamilinya. Kontan Mila beranjak dari tempat duduknya sambil berderai meninggalkan ruang tamu tempat mereka bertemu. Mba Ajeng mengejarnya, lalu membujuk dan menjelaskannya. Bahwa Ia tak tahu jika Dimas adalah masalalunya.

Ditengah gejolak batin Mila yang hebat dan tangisan yang semakin menderu. Dimas dan suami Mba Ajeng menghampiri keduanya, “Mila, maafkan aku yang dulu. Aku lari dari tanggungjawabku. Kamu simpan derita dari kemaksiatan yang kita perbuat dulu seorang diri”. “Lantas, kau hendak membuka luka lama yang tak berkesudahan membekas ?”, Mila pecah dalam tangisnya. “Tidak Mila. Aku ingin perbaiki semuanya. Seribu maaf mungkin tak akan menghilangkan lukamu. Namun, izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu dengan bersama kita menuju jalan ketaatan pada Allah. Berjuang bersama dalam dakwah. Mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan. Memperjuangkan syari’ah Allah. Bersama perbaiki diri. Agar kelak di akhirat Allah tidak menghukumi kita sebagai seorang pezina. Mila, setelah kejadian itu, aku sadar dan aku terus memperbaiki diri. Aku mencarimu. Aku tak menemukanmu. Hingga qodoNya, yang menghantarkanku pada jalan ini dan bertemu denganmu. Allah mengabulkan do’a-do’aku untuk kembali bertemu denganmu. Mila, kita buka lembaran baru. Maukah kau menjadi ibu dari anak-anaku ?”

-Sekian - Selasa, 03 April 2018 00.08

Kemana Arah Narasi LGBT ???

Juni 27, 2018 0 Comments
Zaman ini tak sulit menemukan kaum LGBT. Semakin hari semakin bertambah aktivisnya. Dilansir dari (www.karawangtoday.com) data LGBT di tempat tinggal penulis, di kota Karawang. Sedikitnya 872 orang perilaku menyimpang dari kalangan pria atau yang biasa disebut gay, terpetakan di Karawang, bahkan 51 diantaranya merupakan penderita HIV AIDS.

Perilaku seks menyimpang ini juga merupakan penyumbang penderita HIV AIDS terbesar.  Kementerian Sosial mencatat angka penderita HIV/AIDS (ODHA) yang ada di Indonesia sudah sangat memprihatinkan yakni lebih dari 276 ribu orang. Data menunjukan “Jumlah ini tercatat di Kemensos yang terdiri dari 198 ribu orang lebih menderita HIV, dan 78 ribu orang lebih menderita AIDS. Totalnya mencapai 276 ribu orang di Indonesia menderita atau mengidap HIV/AIDS,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa  di Bekasi (www.kbknews.id).

Di Jawa Barat sendiri masuk ke dalam lima besar populasi pengidap HIV AIDS se-Indonesia. Perilaku lelaki suka lelaki (LSL) atau gay penyumbang penderita HIV terbanyak. Dari data yang didapat Dinkes Jabar dari sejumlah fasilitas kesehatan, jumlah pengidap HIV sejak tahun 1989 hingga 2017 mencapai 37 ribu lebih. Sementara pengidap AIDS mencapai 8.925 orang. (detik.com)
Dalam hal ini, pemerintah tidak boleh tinggal diam atas perilaku amoral ini. Jika dibiarkan, mau dibawa kemana negeri ini jika tonggak estafet generasinya mengalami degradasi moral.

Miris memang, tapi inilah fakta. Mereka (kaum LGBT) juga sebenarnya merasa aktivitas yang dilakukannya abnormal, mengganggu kenyamanan masyarakat, maka dari itu mereka biasanya membuat komunitas. Komunitas para lesbian, komunitas para gay, komunitas waria, dan sejenisnya. 

Menghindari cemoohan masyarakat, stigma negatif yang diterimanya, juga pengucilan.
Berawal dari itu, mereka mulai berani unjuk gigi ingin diakui keberadaannya. Apalagi dengan adanya HAM, mereka mulai merasa mendapat tempat perlindungan. Makin hari makin eksis dengan banyak menampilkan tokoh, salah satunya seperti Sinon Loresca si aktor gay dari Filipina, berciri khas pelawak yang sebetulnya sebagai ikon promosi kaumnya.

Tak ketinggalan, promosi kaum LGBT pun merambah ke kancah dunia perpolitikan Internasional. Akhir-akhir ini juga kita dikejutkan dengan tokoh-tokoh pemimpin negara sebagai pelaku LGBT. Perdana Menteri Luxembourg, Xavier Bettel, menikahi kekasih lamanya Gauthier Destenay yang juga seorang laki-laki. Johanna Sigurdardottir resmi menikahi kekasihnya yang juga seorang perempuan, Jonina Leosdottir. Johanna menggelar pernikahan sejenis itu ketika masih menjabat sebagai Perdana Menteri Islandia (Merdeka.com).

Masifnya Kampanye LGBT

Penggiat LGBT dewasa ini tak hanya sebagai pelaku, tapi mencoba eksis. Mempromisikan kaumnya, berlindung atas nama HAM, mendapat dukungan dari dunia internasional, terorganisir, masif. Puncak arah kaum LGBT adalah 'pelegalan pernikahan sejenis'. Setelah Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis tahun 2001, hingga menyusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afsel (2006), Norwegia - Swedia (2009), Portugal - Islandia - Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil - Inggris - Prancis - Selandia Baru - Uruguay (2013), Skotlandia (2014), Luxemburg - Finlandia - Slovenia - Irlandia - Meksiko (2015), Amerika Serikat (2015), Taiwan dan terakhir Australia.  Hingga akhirnya sekarang mereka pun hendak merambah ke negeri-negeri Muslim, termasuk saat ini begitu masifnya masuk ke Indonesia.

Nampak jelas LGBT adalah agenda besar Barat untuk menghancurkan kaum muslimin. Kapitalisme dengan sekularismenya (memisahkan agama dari kehidupan) jelas mengusung gaya hidup hedonis dan liberal. Bebas berperilaku apapun, asal suka sama suka aktivitas LGBT di mata kapitalisme adalah halal. Sistem liberal yang diusung kapitalisme demokrasi mengikis rasa empati sesama. Melahirkan manusia-manusia individualisme. Apatis atas yang terjadi dalam masyarakat. Tak ayal LGBT semakin merebak dan akan terus meningkat.

Tak habis pikir dengan mereka para pendukung LGBT. Terlihat ada narasi yang dipaksakan oleh para penggiatnya. Sadar LGBT tidak sesuai fitrah, namun tetap dicari alasan pembenaran aktivitasnya. Bahkan acara ILC kemarin di tvone membahas putusan Mahkamah Konstitusi terkait LGBT yang menuai pro kontra juga masih ramai diperbincangkan sampai ada salah satu narasumber pro LGBT mengutip Ayat Al Qur'an surat An-Nur ayat 31 sebagai pembenaran aktivitas LGBT, seperti seolah Allah swt. ridho dengannya. Naudzubillah.

Pernyataan-pernyataan tak berdasar oleh para pendukung LGBT, menyiratkan satu makna yakni kualitas pemikiran yang bobrok, tidak masuk akal alias dipaksakan. Bagaimana tidak ? Memelintir tafsir Al-Qur'an dan meniadakan Sang Pencipta sekaligus sebagai Pengatur. Inilah sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan.

Media Barat juga secara agresif mengekspose komunitas LGBT di tengah masyarakat Muslim. BBC, majalah TIME dan the Huffington Post  selama bulan Ramadhan lalu mengopinikan komunitas pesantren waria di Yogyakarta - Indonesia bahwa keberadaan mereka seolah-olah telah diterima secara luas oleh masyarakat Muslim. Mereka terus memproduksi narasi bahwa Islam 'membenarkan' praktek LGBT dan masyarakat Muslim pun bisa menerima eksistensi kaum sodom ini.

Solusi Tuntas Memberangus LGBT

Masifnya penyebaran prilaku seks menyimpang ini (LGBT) akan semakin terus meningkat, mengingat penguasa saat ini justru malah berada diposisi sebagai pendukung. Tujuan Barat di Negeri mayoritas penduduk muslim terbesar seolah sedang bersorak sorai. Lagi umat dihadapkan dengan fakta yang semakin membuat perih tak terkira.


Tulisan ini tayang di voa-islam, selengkapnya silakan buka link :

http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2017/12/23/55028/kemana-arah-narasi-lgbt/

Mengapa Aku Menulis ?

Juni 27, 2018 0 Comments


Pertanyaan yg mudah tapi menjawabnya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata melalui tulisan.
kalau dijawab dengan perkataan /  berbicara langsung, mungkin akan sangat singkat, beda ketika harus dijawab dengan melalui tulisan. Kata Bu Asri, saat tadi malam dikelas training juga demikian, "memang beda nulis vs ngomong" juga beliau menuliskan "tiap orang beda2, ada juga yg lebih mudah nulis daripada ngomong".

Kalau saya boleh menyimpulkan, iya betul, tergantung habbits apa yg seseorang itu lakukan. Nulis atau ngomong. Ada istilah bisa karena biasa. Tapi kalo diperhatikan, kebanyakan penulis rata2 pasti bisa ngomong depan forum 😀. Ibaratnya seperti menanam rumput dan padi. Kalo menanam rumput, yang tumbuh ya rumput saja, tapi kalo menanam padi, yang tumbuh ga hanya padi tapi rumput juga ikut tumbuh. Begitulah kira2. Intinya, semua itu bisa dilatih dan seberapa banyak melakukan pengulangan.

Bagi saya, untuk menuliskan kata demi kata, kalimat per kalimat apa yg ingin diungkapkan didalam hati maupun pikiran, tidaklah mudah. karena itu td sebetulnya, 'belum terbiasa'.
Untuk menjawab pertanyaan diatas saja saya masih belum menjawab, bingung bagaimana cara mengolah katanya untuk menjadi sebuah jawaban tertulis, tapi rasa-rasanya jari-jari ini mulai melemas mengikuti apa yg dipikirkan, walau perlahan dan seoalah seperti sedang meng-eja alam pikiran tapi saya mencoba untuk mengalirkannya melalui tulisan. 😅😂

Adanya kelas training menulis ini, membuat saya kembali meneropong lembaran impian yang hampir punah. hasek 😂.
Iya betul. Mengingatkan kembali pada semangat itu. Semangat ingin menjadi seseorang yg menebar kebaikan melalui tulisan. Saya berpikir, kalo kata yang terucap itu bisa saja hilang, tapi ketika ditulis, minimal untuk diri sendiri, kita bisa mengingatnya kembali.

Kebermanfaatan tulisan itu tidak akan menjadi manfaat ketika apa yang kita tulis hanya untuk konsumsi pribadi saja, menulis di buku diary misalnya. Seperti apa yang saya lakukan dulu saat masih rajin-rajinnya corat-coret menumpahkan isi hati ke buku harian. Sekarang ? ah belum lagi 😣
Justru hadirnya komunitas ini, seolah memunculkan kembali niatan dulu yang ingin sekali bisa konsisten menulis. Menginspirasi banyak orang,  dan juga saya berharap dengan saya menulis kelak di Yaumul Hisab saya terperanjat karena banyak orang yang telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik setelah membaca tulisan2 saya. Semoga seutas harapan ini bisa terwujud dengan bantuan dari cik gu kita, Bu Asri Supatmiati dan teman2 disini.

Nb : Tugas perdana saat mengikuti kelas menulis #Revowriter

Oktober2017

Senin, 25 Juni 2018

I'm Nawfa Andini

Juni 25, 2018 0 Comments

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Hallo. Selamat bersantai di blog saya. Semoga Anda betah berlama-lama di blog ini. Ini blog pribadi, dan saya sebagai pengelola tunggal. Berharap semoga ada kebaikan dari setiap tulisan yang blog ini sajikan.

Perkenalkan dulu ya. Saya Nawfa Andini. Aktivitas sehari-hari saya adalah sebagai ummu warobarul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Yaps, saya full time mother 'tulen'. Saat ini saya seorang istri dan seorang ibu dari dua anak sholeh, insya Allah aamiin.



Sebelumnya, boleh ya saya bercerita sedikit. Waktu zaman putih abu, saya punya blog, itupun bagian dari tugas sekolah. Saya suka menulis, sebetulnya sejak SD. Hanya saja masih malu-malu, sampai mau nulis buku harian mesti sembunyi-sembunyi. Zaman now, eranya digital. Dan sekarang, mulai menyadari bahwa menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradaban. Menjadi orang yang menebar manfaat adalah dambaan setiap orang, begitu juga dengan saya. Berharap dari setiap untaian kata yang saya tulis, sedikit banyak bisa memberikan minimal secuil kebaikan. Dan harapan terbesar dari apa yang dituangkan melalui tajamnya pena adalah ketika kelak di Yaumul Hisab, mata saya terbelalak karena banyak jutaan manusia yang bisa berubah ke arah yang lebih baik setelah membca tulisan say, aamiin. Ah, tapi mungkin itu hanya sebatas harapan. Hanya saja, harapan minimalnya itu tadi, semoga tersirat kebaikan walau secuil. Menjadi ladang amal jariyah kelak.  Aamiin.

Oh iya, kembali pada blog pertama saya waktu zaman putih abu. Buat blog waktu itu, hanya sekedar untuk mengerjakan tugas sekolah saja. Hanya bisa membuat tanpa tahu fungsinya untuk apa dan bagaimana cara mengoperasikannya. Oktober 2017, saat saya terjaring di komunitas revowriter yang digawangi Ibu Asri Supatmiati, Penulis sekaligus seorang Jurnalis. Sebuah komunitas menulis, wadah bagi para penulis pemula seperti saya yang sampai detik ini masih penulis amatiran alias penulis kelas telurnya ikan teri. 😄Dari sana,  banyak yang menyarankan untuk mengarsipkan tulisan-tulisan yang pernah ditulis. Akhirnya, di komunitas tersebut, dibukalah juga kelas blogger. Alhamdulillah, saya berkesempatan ikut. Mbak Helmi sebagai Owner plus cikgu dari kelas blog yang diberi nama "The Jannah Institute". Alhamdulillah, di kelas blog tersebut kami diajarkan banyak hal tentang seluk beluk 'blog' itu apa, untuk apa dan bagaimana cara mengoperasikannya. Mbak Helmi, semoga menjadi amal jariyah. Aamiin.

Untuk teman-teman sekalian, bagi yang berminat belajar blog. Silakan bisa menghubungi mbak Helmi dengan mengunjungi (www.helmiyatulhidayati.com).
Lanjut yaaa....

Dalam blog ini, saya menyajikan beberapa menu. Berikut saya uraikan sajian menu apa saja dan katagorinya :

1. Tentang Saya : Menu ini sajiannya adalah sekilas tentang profil saya. Isinya yang Anda baca sekarang. hihihi. Selamat membaca yah. Lanjutkan sampai bawah. 😉

2. Muslimah : Tulisan artikel pada menu muslimah ini menyajikan tentang kemuslimahan. Biasanya saya menuliskan pada menu katagori ini bahannya dari kajian-kajian yang saya ikuti. Resensi buku bacaan, atau dari hasil diskusi. Juga saya sisipkan artikel remaja khusus untu kamu-kamu, ya para remaja !

3. Cerpen : Sajian dari menu ini adalah sesuai dengan namanya. Yaps, tulisan cerita pendek. Entah itu fiksi ataupun berupa cerita chicken soup (cerita inspiratif), atau bisa juga diambil dari cerita sehari-hari saya bersama keluarga.

4. Review : Saya lumayan hobi nonton, dulu sih hobinya nonton drakor. Tapi sekarang udah tobat. Nggak lagi-lagi deh, soalnya sekalinya ketinggalan satu episode asli bikin kezel. Cekakak. And now sudah jadi emak-emak juga, jadi ngga ada waktu bermelow ria saat menonton drakor. Hobi lain baca novel, baca status orang (haha), Insya Allah di menu ini saya akan menyajikan tulisan review dari apa yang saya indera, terkait tontonan, bacaan atau hot isu atau berita tranding topic.

5. Arsip : Di menu ini, sengaja saya sisipkan tujuannya untuk meng-save tulisan-tulisan saya yang pernah tayang di media. Berikut juga saya sertakan link-nya.

Demikian ulasan tentang blog saya. Blog ini bisa terkatagori blog lifestyle ala-ala. Hehe. Selamat membaca yaaa. Selamat menikmati sajian menu di blog ini. Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk bersua di rumah sederhana saya (blog) dengan sajian yang sangat sederhana.

Salam Literasi!

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Bagi yang mau bersua dumay bisa hubungi saya :
NB : Perempuan Only
Email : nawfa.andini@gmail.com
Fb : Nawfa Andini
Twitter : @NawfaAndini1