Sumber pict : Google
Seperti riuh angin semilir, menerpa dedaunan
seolah saling menyapa. Beriringan, berjajar, bergerak lamban. Sejuknya terpaan
angin malam.
.
Drrr. Suara getar HP yang tertindih tas dan
buku-buku yang belum sempat dirapikan setelah mengerjakan tugas sekolah. Matanya
mulai terbuka, tangannya meraba mencari keberadaan HP, menyingkirkan buku-buku
yang masih berantakan. "Ya Allah, aku ketiduran di meja belajar". Salia
setengah sadar, mengucek-ngucek mata dan dibukanya HP sambil memakaikan
kacamata yang masih menempel agak melonggar.
.
"dan pada sebahagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;
Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. (Al-Israa' :
79)"
.
Melihat jam di HP, Salia langsung melek.
"Ya Allah sudah jam 3 toh.". Dalam hati Ia bergumam, 'siapa ya yang
mengirim pesan tanpa nama pengirim, sudah 3 hari ini mengingatkan aku untuk qiamul
lail.'
.
Dua hari sebelumnya juga Salia menerima
pesan yang sama. Kutipan Nash Al qur'an dan Hadist membangunkannya untuk
bersujud disepertiga malam.
.
Diletakkannya kembali HP sambil merapikan
meja belajar yang berantakan. Belum beranjak dari dari bangku, sambil
meregangkan otot-otot yang kaku. Tetiba HPnya kembali bergetar. Nomor yang sama
kembali mengirimnya pesan singkat.
.
"Assalamu'alaikum Sal. Semoga kamu
selalu dalam lindunganNya, menyengaja berdua dengan RabbMu disepertiga malamNya,
ditengah orang-orang yang lelap dalam tidurnya."
.
Dahinya mengerenyit, matanya menoleh ke atas
sebelah kiri. Penuh tanya. Selidik dalam hati, 'siapa ya yang mengirim pesan
kaleng ini ? Hmm.'
.
"Wa'alaikumsalam. Maaf ini dengan siapa
ya ?", Salia membalas penasaran. Tak berapa lama pesan Salia pun kembali
dibalas. "Satya, Sal. XII IPA 1." Diselipkannya emot smile diujung
pesan.
.
"Hah ?" Salia terperanjat berdiri
dari tempat duduknya. Berpindah dari tempat duduk meja belajar ke tempat tidur
sambil terus memegang HP dengan wajah memerah dan bertanya-tanya.
.
Kulit putih langsat Salia, terlihat jelas
gurat warna merah merona dipipinya. Salia ingin membalas kembali pesan tapi
dirasa Ia kikuk. Speechless. Jemarinya sudah menempel pada keyword HP, memulai
mengetik. Tapi Salia urungkan, dihapus kembali isi pesan balasannya.
Tersungging bibir tipisnya, kemudian menaruh HP. Bergegas mengambil air wudhu. Membelai
sepertiga malam dengan bersujud mengadu pada Rabb Semesta Alam.
************
Kriing kriing kriing. Tanda bel istirahat
tiba. Satu persatu siswa siswi keluar kelas. Ada yang ke kantin membeli jajanan,
ada yang ke perpustakaan atau ada yang tetap duduk di kelas sambil bercengkrama
dengan temannya.
.
"Met, ayo !" Ajak Salia pada Mety
sahabat sekaligus teman sebangkunya. "Bentar Sal. Gue mau ngambil mukena
dulu", Mety sambil merapikan buku dimasukannya ke dalam tas.
.
Salia dan Mety berjalan beriringan menuju pintu keluar kelas.
Dari arah samping kanan di teras luar kelas Satya melintas agak sedikit
berlari. Seketika Mety berhenti menarik tangan Salia. "Sal, Sal". Ungkap
Mety agak sedikit heboh dan mereka pun berhenti di palang pintu. "Kenapa
sih lu ? Kesurupan ?" Pungkas Salia ya tidak merasa aneh akan sikap sahabatnya
yang suka heboh itu. "Eh elu engga lihat si Satya lewat barusan ?"
Mety sambil melihat wajah sahabatnya. Salia celingak celinguk, "kagak,
mana ? Biarin keles heboh banget lu." "Ah elu Sal, pangeran idaman
elu kan ? Eaa." Mety menggoda. "Udah ayo cepet keburu masuk ntar kita
ga shalat dhuha", terlihat wajahnya memerah sambil menarik tangan Mety.
**********
Satya. Termasuk cowok famous di sekolah. Kapten
basket sekaligus sekertaris Rohis. Alim, keren dan wajahnya baby face ga sedikit
cewek di sekolah pada naksir. Termasuk Salia, menyimpan simpul kekagumannya
pada Satya.
**********
Setelah selesai shalat dhuha Salia memulai
cerita, "Met ?". "Hemm" jawab Mety sambil merapikan
kerudung. "Tadi malam ada yang kirim gue SMS", lanjut cerita Salia.
"Terus?" Tanya lagi Mety. "Iya. Gue engga tahu udah tiga hari
ini ada yang kirim SMS ke gue, isinya bangunin qiyamul lail gitu. Awalnya gue engga
balas SMS-nya. Lama-lama gue penasaran juga. Nomor yang sama SMS pas diwaktu
qiyamul lail Met. Terus akhirnya gue bales juga." Papar Salia. Serobot
Mety, "terus siapa Sal ?". "Ah lu tau siapa Met ? Satya Met, Satya"
jelas Salia. "Aih, serius lu ? Ciee. Haha. Beneran Sal Satya ? Ya Allah pangeran
elu Sal" seperti biasa Mety heboh. "Apaan lu pengeran. Pangeran kodok
?" Kata Salia. "Terus elu jawab apa Sal ?", Mety penasaran.
"Engga gue balas. Bingung juga gue mau bales apa." Ungkap Salia.
"Eaa eaa eaa", sambil tertawa Mety kembali menggoda.
.
Kriing kriing kriing. Bel tanda istirahat habis.
Kembali mereka bergegas masuk kelas. Dalam perjalanan Salia teringat hari ini
sepulang sekolah ada kajian dengan Teh Rara. Salia, "Met, elu udah SMS Teh
Rara hari ini kajian kan ?". "Udah semalam gue kabarin Teh Rara-nya.
Katanya oke jam setengah 2 siang di masjid Al-Furqon." Kata Mety setengah
berlari menuju kelas. "Oh. Oke." Salia menjawab.
**********
Tepat jam 13.00 bel tanda kegiatan belajar
dihari itu sudah usai. Semua siswa siswi berhamburan keluar. Salia dan Mety pun
bergegas keluar. Sebelum ke masjid Al Furqon, tempat kajian Islam rutin mingguan.
Mereka membeli makanan mengganjal perutnya yang lapar sebelum kajian.
.
Setelah itu mereka pun pergi menuju masjid.
Rupanya Teh Rara sudah menunggu mereka. "Assalamu'alaikum teh ?".
"Wa'alaikumsalam", senyum lembut Teh Rara menyambut hangat Salia dan Mety.
"Teh, afwan nunggu lama yah ?" Tanya Mety. "Engga kok. Ga
apa-apa. Lagian kan akadnya kita jam 13.30. Sekarang jam 13.25, masih ada waktu
5 menit lagi ?", Teh Rara menjawab.
.
Kajian kali ini Teh Rara menjelaskan
tentang 'Single before merried'. Ah tema yang renyah buat para remaja seusia
Salia dan Mety. Hampir 2 jam kajian pun tak terasa karena saking asyiknya
mendengarkan penjelasan materi dari Teh Rara. Adzan Ashar berkumandang. Setelah
shalat ashar mereka malanjutkan dengan diskusi ringan seputar tema yang disampaikan.
.
Teh Rara menjelaskan bahwa Islam adalah
agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan. Dalam Islam interaksi antar
lawan jenis ada batasannya. Termasuk bagaimana Islam mengatur batasan interaksi
via udara maupun nyata. Salia dan Mety seolah terbelalak, desir ombak menghunus
pada hatinya ingin terus hijrah memperbaiki diri dan istiqomah semakin memuncak
menyeruak.
.
Diluar sana banyak para remaja yang tidak
malu-malu menampilkan kemesraannya dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Pacaran sudah bukan lagi hal yang aneh. Malah sebaliknya, yang memutuskan tidak
pacaran malah dianggap aneh bin katro. Padahal, dalam Islam pacaran adalah aktivitas yang dilarang. Salia bersyukur bisa menahan diri, tidak terjebak pada interaksi yang
belum saatnya. Cukupkan kekagumannya pada seseorang ia jadikan pecutan tuk
lebih mendekatkan diri pada Allah, Rabb Semesta. Sampai saatnya tiba Ia yakin,
pasti Ia akan terjebak pada seseorang yang halal diwaktu yang telah Allah
siapkan.
~~~sekian~~~~

Gambarnya boleh di tambahin. Tiap 5 paragraf kasi 1 gambar bagus jugaa..
BalasHapusOke mba ... alhamdulillah... mksh sdh mampir mbaak 😍
Hapus