Follow Us @soratemplates

Senin, 09 Juli 2018

Terjebak


Sumber pict : Google

Seperti riuh angin semilir, menerpa dedaunan seolah saling menyapa. Beriringan, berjajar, bergerak lamban. Sejuknya terpaan angin malam.
.
Drrr. Suara getar HP yang tertindih tas dan buku-buku yang belum sempat dirapikan setelah mengerjakan tugas sekolah. Matanya mulai terbuka, tangannya meraba mencari keberadaan HP, menyingkirkan buku-buku yang masih berantakan. "Ya Allah, aku ketiduran di meja belajar". Salia setengah sadar, mengucek-ngucek mata dan dibukanya HP sambil memakaikan kacamata yang masih menempel agak melonggar.
.
"dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. (Al-Israa' : 79)"
.
Melihat jam di HP, Salia langsung melek. "Ya Allah sudah jam 3 toh.". Dalam hati Ia bergumam, 'siapa ya yang mengirim pesan tanpa nama pengirim, sudah 3 hari ini mengingatkan aku untuk qiamul lail.'
.
Dua hari sebelumnya juga Salia menerima pesan yang sama. Kutipan Nash Al qur'an dan Hadist membangunkannya untuk bersujud disepertiga malam.
.
Diletakkannya kembali HP sambil merapikan meja belajar yang berantakan. Belum beranjak dari dari bangku, sambil meregangkan otot-otot yang kaku. Tetiba HPnya kembali bergetar. Nomor yang sama kembali mengirimnya pesan singkat.
.
"Assalamu'alaikum Sal. Semoga kamu selalu dalam lindunganNya, menyengaja berdua dengan RabbMu disepertiga malamNya, ditengah orang-orang yang lelap dalam tidurnya."
.
Dahinya mengerenyit, matanya menoleh ke atas sebelah kiri. Penuh tanya. Selidik dalam hati, 'siapa ya yang mengirim pesan kaleng ini ? Hmm.'
.
"Wa'alaikumsalam. Maaf ini dengan siapa ya ?", Salia membalas penasaran. Tak berapa lama pesan Salia pun kembali dibalas. "Satya, Sal. XII IPA 1." Diselipkannya emot smile diujung pesan.
.
"Hah ?" Salia terperanjat berdiri dari tempat duduknya. Berpindah dari tempat duduk meja belajar ke tempat tidur sambil terus memegang HP dengan wajah memerah dan bertanya-tanya.
.
Kulit putih langsat Salia, terlihat jelas gurat warna merah merona dipipinya. Salia ingin membalas kembali pesan tapi dirasa Ia kikuk. Speechless. Jemarinya sudah menempel pada keyword HP, memulai mengetik. Tapi Salia urungkan, dihapus kembali isi pesan balasannya. Tersungging bibir tipisnya, kemudian menaruh HP. Bergegas mengambil air wudhu. Membelai sepertiga malam dengan bersujud mengadu pada Rabb Semesta Alam.

************

Kriing kriing kriing. Tanda bel istirahat tiba. Satu persatu siswa siswi keluar kelas. Ada yang ke kantin membeli jajanan, ada yang ke perpustakaan atau ada yang tetap duduk di kelas sambil bercengkrama dengan temannya.
.
"Met, ayo !" Ajak Salia pada Mety sahabat sekaligus teman sebangkunya. "Bentar Sal. Gue mau ngambil mukena dulu", Mety sambil merapikan buku dimasukannya ke dalam tas.
.
Salia dan Mety  berjalan beriringan menuju pintu keluar kelas. Dari arah samping kanan di teras luar kelas Satya melintas agak sedikit berlari. Seketika Mety berhenti menarik tangan Salia. "Sal, Sal". Ungkap Mety agak sedikit heboh dan mereka pun berhenti di palang pintu. "Kenapa sih lu ? Kesurupan ?" Pungkas Salia ya tidak merasa aneh akan sikap sahabatnya yang suka heboh itu. "Eh elu engga lihat si Satya lewat barusan ?" Mety sambil melihat wajah sahabatnya. Salia celingak celinguk, "kagak, mana ? Biarin keles heboh banget lu." "Ah elu Sal, pangeran idaman elu kan ? Eaa." Mety menggoda. "Udah ayo cepet keburu masuk ntar kita ga shalat dhuha", terlihat wajahnya memerah sambil menarik tangan Mety.

**********

Satya. Termasuk cowok famous di sekolah. Kapten basket sekaligus sekertaris Rohis. Alim, keren dan wajahnya baby face ga sedikit cewek di sekolah pada naksir. Termasuk Salia, menyimpan simpul kekagumannya pada Satya.

**********

Setelah selesai shalat dhuha Salia memulai cerita, "Met ?". "Hemm" jawab Mety sambil merapikan kerudung. "Tadi malam ada yang kirim gue SMS", lanjut cerita Salia. "Terus?" Tanya lagi Mety. "Iya. Gue engga tahu udah tiga hari ini ada yang kirim SMS ke gue, isinya bangunin qiyamul lail gitu. Awalnya gue engga balas SMS-nya. Lama-lama gue penasaran juga. Nomor yang sama SMS pas diwaktu qiyamul lail Met. Terus akhirnya gue bales juga." Papar Salia. Serobot Mety, "terus siapa Sal ?". "Ah lu tau siapa Met ? Satya Met, Satya" jelas Salia. "Aih, serius lu ? Ciee. Haha. Beneran Sal Satya ? Ya Allah pangeran elu Sal" seperti biasa Mety heboh. "Apaan lu pengeran. Pangeran kodok ?" Kata Salia. "Terus elu jawab apa Sal ?", Mety penasaran. "Engga gue balas. Bingung juga gue mau bales apa." Ungkap Salia. "Eaa eaa eaa", sambil tertawa Mety kembali menggoda.
.
Kriing kriing kriing. Bel tanda istirahat habis. Kembali mereka bergegas masuk kelas. Dalam perjalanan Salia teringat hari ini sepulang sekolah ada kajian dengan Teh Rara. Salia, "Met, elu udah SMS Teh Rara hari ini kajian kan ?". "Udah semalam gue kabarin Teh Rara-nya. Katanya oke jam setengah 2 siang di masjid Al-Furqon." Kata Mety setengah berlari menuju kelas. "Oh. Oke." Salia menjawab.

**********

Tepat jam 13.00 bel tanda kegiatan belajar dihari itu sudah usai. Semua siswa siswi berhamburan keluar. Salia dan Mety pun bergegas keluar. Sebelum ke masjid Al Furqon, tempat kajian Islam rutin mingguan. Mereka membeli makanan mengganjal perutnya yang lapar sebelum kajian.
.
Setelah itu mereka pun pergi menuju masjid. Rupanya Teh Rara sudah menunggu mereka. "Assalamu'alaikum teh ?". "Wa'alaikumsalam", senyum lembut Teh Rara menyambut hangat Salia dan Mety. "Teh, afwan nunggu lama yah ?" Tanya Mety. "Engga kok. Ga apa-apa. Lagian kan akadnya kita jam 13.30. Sekarang jam 13.25, masih ada waktu 5 menit lagi ?", Teh Rara menjawab.
.
Kajian kali ini Teh Rara menjelaskan tentang 'Single before merried'. Ah tema yang renyah buat para remaja seusia Salia dan Mety. Hampir 2 jam kajian pun tak terasa karena saking asyiknya mendengarkan penjelasan materi dari Teh Rara. Adzan Ashar berkumandang. Setelah shalat ashar mereka malanjutkan dengan diskusi ringan seputar tema yang disampaikan.
.
Teh Rara menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan. Dalam Islam interaksi antar lawan jenis ada batasannya. Termasuk bagaimana Islam mengatur batasan interaksi via udara maupun nyata. Salia dan Mety seolah terbelalak, desir ombak menghunus pada hatinya ingin terus hijrah memperbaiki diri dan istiqomah semakin memuncak menyeruak.
.
Diluar sana banyak para remaja yang tidak malu-malu menampilkan kemesraannya dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Pacaran sudah bukan lagi hal yang aneh. Malah sebaliknya, yang memutuskan tidak pacaran malah dianggap aneh bin katro. Padahal, dalam Islam pacaran adalah aktivitas yang dilarang. Salia bersyukur bisa menahan diri, tidak terjebak pada interaksi yang belum saatnya. Cukupkan kekagumannya pada seseorang ia jadikan pecutan tuk lebih mendekatkan diri pada Allah, Rabb Semesta. Sampai saatnya tiba Ia yakin, pasti Ia akan terjebak pada seseorang yang halal diwaktu yang telah Allah siapkan.

 ~~~sekian~~~~

2 komentar:

  1. Gambarnya boleh di tambahin. Tiap 5 paragraf kasi 1 gambar bagus jugaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke mba ... alhamdulillah... mksh sdh mampir mbaak 😍

      Hapus