Follow Us @soratemplates

Rabu, 27 Juni 2018

Sepenggal Kisah Memoriku




//Sepenggal Kisah Memoriku//
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum...
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Laa Ilaha Illallah...

Suara syahdu memecah kekhusuan dipenghujung malam.  Tak ada hiruk pikuk. Suasana masih sunyi senyap. Hanya yang terdengar panggilan cintaNya yang menyapa semesta. Pertanda waktunya manusia tuk membisik do'a pada bumi. Bersujud pada Rabb pencipta alam, saat sebelum hadirnya sang fajar.

Ada yang tak biasa dipembuka awal pada hari itu, yang biasanya aku hanya membawa buku pelajaran sesuai jadwal, tapi hari itu aku juga membawa 2 baju ganti. Karena semalam aku menerima pesan singkat dari sahabatku Nana yang terbaring di rumah sakit. Perutnya tak mau menerima ajakan rasa lapar, akhirnya makanan yang masuk, keluar lagi. Lantaran maag akutnya kambuh.  Jadilah kali ini dia harus kembali bersahabat dengan jarum infus dan harus menelan banyak butiran pil.  Pikirku, ah dasar kau pasti telat makan! Jadilah begini.

Kantong izin menginap sudah kudapat dari orangtuaku. Yes, aku bisa temani sahabatku yang sedang Allah uji dengan sakitnya. Waktu itu hari sabtu, jadi malam mingguku kuhabiskan bersamanya. Ya, di rumah sakit.

=======================

Suasana seisi kelas mulai gusar. Melihat ada kelas sebelah satu per satu mulai berhamburan. Nampaknya jam terakhir mereka bebas. Kami yang tak bebas, menunggu beberapa menit lagi menuju jam bebas merdeka. Beberapa diantara kami ada yang melirik pada jam yang menempel dilengannya. Akhirnya, pas jam 15.15 dering bel tiga kali pun terdengar. Pertanda waktunya seisi kelas berhamburan keluar.

"Ra, jadi ke RS ?", tanya Midah teman sebangku. "Iya, eh aku jadi nebeng yah". "Siap". Midah sambil beranjak dari bangkunya.

Scooter matic keren pada zamannya, melaju membelah kota padi yang hari ini mulai tergerus oleh perusahan-perusahan asing yang bertengger megah di tanah agrari ini. Pemandangan hijau sudah jarang ditemukan berganti dengan deretan mall, perumahan,  pusat perbelanjaan modern dan hotel menjadi penghias pembatas jalan. Duhai tanah kelahiranku. Kota Karawang, Kota Padi, Kota Pangkal Perjuangan.

========================

"Assalamu'alaikum", kubuka pintu kamar nomor 104 ruangan Cilamaya kelas II. Aku tak melihat ada sahabatku, hanya ada seorang ibu berkerudung jingga yang tersenyum padaku. "Cari siapa neng?", ibu itu bertanya. Tak lama ibunya Nana keluar dibalik gorden,  "Eh Dhira, ayo sini!  Nana disini". Aku hanya membalas sapaan ibu berkerudung jingga itu dengan senyuman.

Nampaknya Nana sudah agak mulai baikan. Tak ada ekspresi wajah kesakitan. Hanya saja masih terlihat pucat dan lemas. Sampai menjelang tidur, aku dan Nana masih melanjutkan bercerita kesana kemari tentang keseruan apa yang sudah pernah kami lakukan. Kami bersahabat dari kecil. Jadi, sudah banyak episode yang kami lalui bersama. Bersyukur, masih bisa melihat keadaannya dan menghiburnya disaat dia kepayahan menghadapi ujian sakitnya.

=========================

Esok harinya, aku melihat pasien sebelah tempat tidur Nana yang hanya dibatasi dengan kain gorden. Kebetulan kain gorden pembatas itu dibuka. Dia yang sedang duduk diranjang sambil mengoyang-goyangkan kaki seraya jarum infus yang masih menempel. "Na, dia sakit apa ?" tanyaku penasaran. "Anemia sama hepatitis katanya ra" jawab Nana. Aku, "oh, dia anak SD kelas 5 kayaknya ya? Kasian ya? ". "Bukan Dhira, dia seumuran kita tahu". Hah aku yang tak percaya melihat pasien sebelah yang terlihat seperti anak SD ternyata seumuranku, gadis SMA 16 tahun. Ya Allah kok bisa ya pikirku.  


Tak terasa, kembali panggilan cintaNya hadir menyapa. Hangatnya mentari persis di atas bumi mulai membisikan bahwa saatnya manusia kembali untuk bersujud, bertekuk lutut padaNya. Memohon ampun dan meminta kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kugelar sajadah di pojok kamar ruangan Cilamaya nomor 104.

Selesai salam. Ternyata ada yang memperhatikanku dari kejauhan. Dia tersenyum lebar padaku. Senyuman itu mengguratkan kerutan disamping mata kanan dan kirinya. Seperti pertanda senyum kerinduan. Tangan kirinya, nampak sudah akrab sekali dengan jarum infus. Kali ini dia duduk di kursi di samping ranjangnya,  lagi-lagi sambil mengayun-ayunkan pelan kedua kakinya kedepan kebelakang. Dia tak banyak bicara, tingkahnya persis anak SD kelas 5.



Selesai merapikan sajadah dan mukena kuhampiri dia. Kutanya namanya siapa, kudekati lalu kupegang tangannya. Dia hanya meresponku dengan senyuman. "Namanya Ika neng." seorang ibu dari belakangku menjawab. Nampaknya ibu berkerudung jingga yang kemarin itu adalah ibunya Ika. "Oh Ika ya. Ika kenapa? Ika mau shalat? " dia masih tak merespon, kembali hanya melempar senyuman. "Ika mau shalat ? " tanyaku lagi. Kali ini aku terhenyak, seolah ada desir halus yang menyergap. Entah yang kurasakan saat itu saat mendengar yang Ika ucapkan. "Awoh" sambil menepuk beberapa kali dadanya. Spontan aku bertanya kembali,  "Ika kangen Awoh? ". Kali ini dia tak menempali, hanya yang terlihat guratan dikedua samping matanya, bibirnya tersungging melebar, kembali ia hanya melempar senyuman. Lirihku, ya Allah. Mungkin Awoh yang Ika maksud adalah Allah. Atau Awoh adalah shalat. Entahlah, dia tak begitu jelas mengatakannya. Pantas saja ia tak banyak bicara, untuk bicara saja ia merasa kesulitan, seperti anak usia dini yang sedang belajar bicara. Aku menahan sesak. Menyeruak di dada. Tak terasa kontan pelupuk mataku berkaca. Namun sebisa mungkin kutahan agar tak jatuh di pipi.

Ibunya menghampiri kami, kemudian beliau bercerita keadaan Ika. Awalnya Ika mengeluh sakit perut karena maag. Sakitnya berlanjut sampai dia pernah tak bisa berjalan selama hampir satu bulan. Berbagai obat sampai terapi apapun sudah diikhtiari kedua orangtua Ika. Sampai akhirnya sekarang di sini sudah 10 hari. Sebelumnya juga sudah akrab sekali dengan bau khas rumah sakit. HB yang sangat rendah mengharuskan ia transfusi. Pernah sampai transfusi 2 kantong darah dimasukan kedalam tubuhnya tak sampai berapa lama habis. Ibunya meneruskan jika sekarang juga sedang menunggu rujukan untuk pindah ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, katanya rumah sakit di sini tak cukup alat untuk menangani penyakit yang diderita Ika. Aku sempat memotret papan diagnosanya Ika. Tapi sepertinya terhapus dimemori HP lamaku. Entah jelasnya Ika menderita penyakit apa. Yang jelas rambutnya Ika sudah mulai rontok banyak.

Ibunya Ika selalu tersenyum kala melihatku. Rupanya mungkin beliau berharap Ika bisa sembuh seperti sedia kala. Seperti aku. Bisa beraktivitas biasa. Bisa bersekolah menggapai apa yang menjadi tujuan. Menjadi kebanggaan orangtua dan keluarga. Karena sakit yang lama, mengharuskan Ika terhenti tak melanjutkan bangku sekolah di kelas 2 SMA. Beliau bercerita, sebelum sakit Ika itu seperti anak biasa. "Sama seperti neng Dhira". Kata beliau sambil memperlihatkan foto cantik anaknya memakai kerudung ungu.



============================

Perasaanku berkecamuk, helaan nafasku terasa ada yang menghimpit. Sesak. Kaki kuberjalan tidak seperti biasa. Rasanya berjalan di koridor rumah sakit seperti tak menemui ujung jalan. Langkah kakiku lamban mengikuti benak yang sedang mengajakku bicara.

Ya Allah, rasanya tak ada alasan untukku tak mensyukuri semuanya. Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān (Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?). Nikmat sehat sering kuabaikan juga nikmat waktu luang yang kugunakan untuk suatu hal yang tak bermanfaat. Maafkan aku Ya Allah. Maafkan aku yang hina dina. Maafkan diusia mudaku kujalani dengan penuh penyesalan dikemudian. Aku yang waktu itu baru belajar menutup aurat dengan jibab dan khimar. Semakin tumbuhkan keyakinan inilah petunjukMu yang benar. Terimakasih Ika kau mengajarkanku akan setiap detik adalah hal berharga. Lahaula wala quwata illabillah. Mudahkan niat hijrahku ya Allah.

Terimakasih ya Allah, Kau telah pertemukanku dengan gadis manis yang kuat. Menerima qodoMu dengan penuh keikhlasan. Tak kulihat keluhan diwajahnya. Juga ibunya yang ikhlas menerima setiap qodo dariMu melalui anaknya. Aku banyak belajar dari mereka.

Masih di koridor rumah sakit dalam perjalanan menuju pulang batinku berguman. Suatu saat aku akan menuliskan sepenggal kisah ini saat bersamamu. Semoga kelak aku bisa kembali melihatmu dalam keadaan sehat. Bersama Nana kita kan menjadi sahabat. Menggenggam bara hijrah.

Ah rasanya sulit dipercaya. Azzamku 7 tahun yang lalu baru aku penuhi hari ini. Di pojok ruangan semediku di atas meja belajar anakku aku menuliskan kisahku saat bersamamu juga bersama Nana pada hari itu. Harapku tuk bisa melihatmu kembali, tuk kita bisa merajut ukhuwah, tuk bisa saling bercerita keluarga masing-masing, ternyata Allah tangguhkan. Karena 2 bulan setelah kepulangan Nana dari rumah sakit aku mendapat kabar duka bahwa kau telah berpulang. Ika, semoga kau husnul khotimah, semoga kau husnul khotimah. Aku masih berharap tuk bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa dipertemukan Allah pada jannahNya. Aamiin Ya Rabb.

8 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ya Allah, kok bisa jadi gitu ya mbak? Kasihan. Padahal dulunya normal lho.

    Semoha mbak ika bisa segera diberi kesembuhan. Aamiin

    BalasHapus
  3. Salut dengan ketabahan Ika dan ibu Ika. Ridha dan tabah. Semoga Ika berbahagia di sisi Pencipta, aamiin

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Ya Allah membaca tulisan mbak, sy merasa tertampar..

    BalasHapus
  6. Semoga ika khusnul khotimah.. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

    BalasHapus